Rabu, 19 November 2014

[Resensi Buku Islam] Mendulang Faedah dari Kalimat Nubuwah



Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam sebagai nabi dan rasul yang terakhir telah meninggalkan warisan yang sangat berharga bagi umatnya. Warisan berupa ilmu yang bersumber dari al Qur’an dan as Sunnah tersebut adalah peninggalan yang akan membawa setiap muslim kepada kebahagiaan dunia dan akhirat. Maka, tentu tidak diragukan lagi bahwa sangat penting bagi kita untuk senantiasa bersemangat dalam menuntut ilmu syar’i melalui berbagai macam wasilah yang hari ini begitu mudahnya untuk kita dapatkan. 

Salah satu cara untuk mempelajari ilmu agama adalah dengan mempelajari buku-buku hadits. Alhamdulillah, saat ini telah tersebar di tengah-tengah kita berbagai macam buku dan kitab yang menghimpun sejumlah hadits dan disertai pula dengan penjelasannya, sehingga sangat memudahkan kita untuk memahami makna dan kandungan dari hadits tersebut. Diantara buku yang memuat penjelasan-penjelasan hadits tersebut adalah buku yang akan kita bahas dalam kesempatan kali ini.
Buku ini berjudul ‘Mendulang Faedah dari Kalimat Nubuwah’. Hadir dalam edisi softcover dengan sampul berwarna biru yang simpel namun tetap menarik. Terdiri atas 351 halaman yang memuat 99 hadits pilihan yang merupakan Jawami’ul Kalim, yakni perkataan yang ringkas namun sarat akan makna, serta disertai pula dengan pembahasan maksud-maksud dan sasarannya. Buku ini merupakan edisi terbaru dari buku berjudul ‘Kumpulan Hadits Tazkiyatun Nufus’ yang dikemas kembali dalam terbitan baru dengan tampilan yang lebih menarik dengan beberapa perbaikan di dalamnya. 

Hadits-hadits yang dimuat dalam buku ini memiliki cakupan yang begitu luas, meliputi pembahasan yang berkaitan dengan tauhid, ushul, aqidah, perjalanan dan perilaku untuk taat kepada Allah, akhlak, adab-adab agama dan dunia, kesehatan, serta hukum-hukum yang berkaitan dengan permasalahan fiqih; seperti ibadah, mu’amalah, pernikahan, serta faedah-faedah umum lainnya. Setiap hadits disertai dengan pembahasan yang jelas dan lugas, namun tetap ringkas, sehingga sangat mudah untuk dipahami. Buku ini disusun oleh Syaikh al Fadhil Abdurrahman bin Nashir as Sa’di yang akan membagikan kepada kita keluasan ilmu dan pengetahuan yang beliau miliki.

Buku ini dibuka dengan hadits pertama yang membahas tentang niat dan ikhlas, dimana pembahasannya terangkaikan dengan hadits kedua mengenai waspada terhadap bid’ah. Kedua hadits ini saling berkaitan satu sama lain, dimana hadits pertama yang diriwayatkan oleh Umar bin Khattab radhiyallahu ‘anhu terkait dengan timbangan bagi amal-amal bathin, yakni niat. Sedangkan hadits kedua yang diriwayatkan oleh Aisyah radhiyallahu ‘anha membahas mengenai amal-amal lahiriyah yang harus selalu berdasar kepada nash-nash yang shahih.

Pada pembahasan ini akan dipaparkan kepada kita mengenai perbedaan antara niat amal dan niat yang menjadi tujuan amal. Niat amal yang dimaksud adalah dengan mengkhususkan niat saat akan mengerjakan suatu ibadah sehingga ia berbeda dengan kebiasaan di luar ibadah, misalnya pengkhususan berniat saat akan mandi untuk menghilangkan hadats besar, tentu berbeda dengan saat akan mandi dengan tujuan untuk kebersihan seperti biasa. Adapun niat yang menjadi tujuan amal, tentunya hanya semata-mata untuk mendapatkan keridhaan Allah dengan segala keikhlasan dan tidak menginginkan sesuatu apapun dari makhlukNya. Hal ini sangat penting untuk dipahami oleh setiap muslim, sebab hadits tersebut mengumpulkan seluruh perkara kebaikan, sehingga keselamatan dapat diraih dan kemanfaatan bisa didapatkan, sebab segala sesuatunya sangat bergantung kepada niat seseorang. 

Perkara-perkara penting lainnya yang patut untuk dipahami oleh seorang muslim juga banyak dibahas dalam rangkaian hadits pada buku ini. Misalnya, gambaran mengenai sifat seorang muslim pada hadits ke-6, pemaparan tentang keislaman yang baik pada hadits ke-66, penjelasan mengenai cabang-cabang iman pada hadits ke-79, hadits tentang iman kepada Allah dan hari akhir pada hadits ke-90, serta iman kepada qadar pada hadits ke -9. 

Sementara pada pembahasan di hadits ke- 25, kita akan mendapatkan penjelasan mengenai shifat shalat. Satu hadits ini menyimpan tiga pelajaran yang sangat berharga bagi kaum muslimin dan penjelasan yang sangat kita butuhkan jika benar-benar ingin meneladani Rasulullah shallallhu alaihi wasallam dalam hal yang berkaitan dengan ibadah yang paling pertama dihisab ini. Pelajaran yang terkandung di dalamnya memuat penjelasan mengenai adzan dan ketentuan-ketentuannya. Kedua, mengenai ketentuan dalam hal imam dalam shalat, dan yang terakhir namun tak kalah penting adalah kewajiban untuk shalat sesuai dengan apa yang dicontohkan oleh Rasulullah shallallhu alaihi wasallam, baik dalam hal gerakannya, maupun dalam bacaannya. Selaras dengan hadits tersebut, pada hadits ke-86 dijelaskan pula mengenai disyariatkannya mengikuti cara manasik haji dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Masih terkait dengan ibadah, pada hadits ke 32 pun kita akan disuguhkan dengan penjelasan mengenai batasan nishab untuk zakat bijian dan buah, penjelasan mengenai shadaqah di hadits ke-34, serta terdapat pula pemaparan mengenai tata cara menyembelih sesuai syariat Islam dalam hadits ke-60 dan 61. 

Ingin mendapatkan penjelasan mengenai doa? Terdapat pula sebuah hadits yang akan  menambah ilmu kita mengenai satu doa yang paling lengkap dan paling bermanfaat, sebab ia mencakup kebaikan agama dan dunia, petunjuk kepada ilmu yang bermanfaat, kehormatan, dan kecukupan. Temukan pemaparannya pada hadits ke 89. Sebelumnya, secara khusus mengenai doa dalam perjalanan sekaligus penjelasan mengenai adab-adab bersafar akan kita dapatkan pada bagian hadits ke 85. 

Pada hadits ke-29, kita akan dipaparkan perihal hak muslim atas muslim yang lainnya. Keenam kewajiban seorang muslim atas saudara sesama muslim tersebut teringkas dalam sebuah hadits yang memberikan kepada kita pengajaran yang sangat berharga dalam hal muamalah sekaligus memperlihatkan keindahan dan kesempurnaan Islam yang mengatur semua hal dalam kehidupan umatnya, sehingga akan membawa kemaslahatan yang sangat besar. Hal ini juga tercermin dalam beberapa hadits lain dalam buku ini, diantaranya pada hadits ke-92 yang membahas tentang adab antara suami dan isteri, dilanjutkan dengan adab-adab seorang qadhi syar’i pada hadits setelahnya, serta perintah untuk berbuat baik kepada kedua orang tua pada hadits ke-96. Selain itu, hadits ke 67 juga akan memberikan kepada kita penjelasan mengenai pendidikan kepada anak, dimana sebaik-baik pemberian seorang ayah kepada anaknya adalah contoh berupa perilaku yang baik. Sebelumnya di hadits ke-50, terdapat pula anjuran untuk bersikap baik kepada wanita. Rangkaian hadits-hadits tersebut akan memberikan kepada kita motivasi untuk senantiasa memperbaiki diri, meraih kebaikan akhlak, melakukan perbuatan ma’ruf, serta berbuat ihsan terhadap manusia, yang kesemuanya itu akan membawa kita pada kehidupan yang diliputi dengan kedamaian. 

Menyeksamai hadits ke-70 juga akan memberikan manfaat yang amat besar kepada kita semua. Bagian ini diberi tajuk; wasiat yang bermanfaat, sebab ia mencakup  ilmu yang agung dan disimpulkan dalam tiga pernyataan yang sarat akan makna. Yang pertama menjelaskan mengenai sebaik-baik akal, yakni yang mengikuti pengaturan agama sehingga tidak akan menuntun kecuali kepada jalan lurus yang dicontohkan oleh Rasulullah shallallau alaihi wasallam, pengaturan kehidupan yang akan menuntun kepada rizki dari Allah, serta pengaturan harta yang akan membawa seseorang kepada keseimbangan hidup. Pelajaran kedua dari hadits ini akan memberikan kita penjelasan mengenai sikap menahan diri yang merupakan batasan lengkap bagi wara’ sehingga akan menjaga diri dan agama seseorang dari kehancuran. Dan pelajaran ketiga mengenai pentingnya menjaga akhlak yang akan membawa kepada kebaikan dan keberuntungan.  

Hadits ke-91 juga menyimpan makna yang tidak kalah penting, bahkan begitu luas dan patut untuk kita pahami bersama. Hadits yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu ini memaparkan mengenai perintah dan larangan Allah yang tercakup dalam masing-masing tiga poin pemaparan. Hadits ini akan memberikan gambaran kepada kita betapa setiap hal yang diperintahkan kepada manusia adalah sesuatu yang akan mendatangkan maslahat dan kebahagiaan dunia-akhirat. Serta sebaliknya, tidaklah sesuatu dilarang oleh Allah, melainkan perkara tersebut memang hanya akan membawa mudharat bagi orang-orang yang melakukannya. Penasaran mengenai tiga hal tersebut? Temukan jawabannya dalam hadits ini. 

Rangkaian hadits dalam buku ini ditutup dengan penjelasan mengenai hadits ke-99 yang berisi berita dan bimbingan. Berita nubuwah tersebut mengenai gambaran tentang akhir zaman dimana kebaikan semakin berkurang sedangkan keburukan akan semakin banyak. Namun, meskipun mengerjakan kebaikan pada masa tersebut begitu berat, bahkan hingga digambarkan bagaikan menggenggam bara api, hadits ini juga mengarahkan kita untuk dapat tetap menjadi bagian dari segelintir orang yang tetap istiqamah tersebut. Yakni, meski keburukan merajalela, namun ia tetap pada keimanan, tidak berputus asa dari rahmat Allah serta yakin pada janjiNya. Seseorang yang beriman akan tetap teguh dengan keyakinannya, berikhtiar pada kebaikan, bernasihat, serta terus mendakwahkan kebenaran. 

Pada akhirnya, buku ini akan mengajak kita untuk menyusuri setiap pengajaran dan arahan dari Rasulullah shallallahu ‘alahi wasallam yang terhimpun dalam rangkaian kata-kata yang ringkas dan jelas, namun memiliki faedah yang sangat luas dan makna yang sangat mendalam. Tidak salah lagi bahwa beliau shallallahu ‘alahi wasallam adalah pribadi yang paling berilmu dan paling sempurna dalam hal pengajaran, sebab setiap hal yang ada pada diri beliau selalu berada dalam koridor yang diwahyukan oleh Allah subhana wata’ala. Maka, sudah seharusnya setiap kita memiliki kesadaran yang besar untuk terus berusaha mempelajari dan meneladani setiap petunjuk dari Rasulullah shallallahu ‘alahi wasallam, yang bukan hanya akan menambah wawasan keilmuan kita dalam ilmu syar’i, tapi juga akan mengantarkan kita pada ketenangan hati. Insya Allah. 

*ditulis untuk rubrik Resensi Buku Islam di Radio Rodja

Tidak ada komentar:

Posting Komentar