Menulis bagaikan menanam pohon. Bahkan meski kita tahu bahwa besok kita akan mati (walaupun kita tidak akan pernah tahu), tapi jika benih telah ada di tangan, maka tanamlah. Maka biarpun kita berfikir bahwa tidak akan banyak yang membacanya, tapi jika ide telah ada di otak, maka tuliskanlah! Sebab Allah tahu, kita telah mencoba.
Rabu, 27 November 2013
Jawaban di Puncak Mahameru
Sabtu, 31 Maret 2012
Blogshop N5M: Penulis pun Harus Bersemangat Man Jadda Wajada!
Minggu, 11 Maret 2012
~Rasa Bahasa~

SisiRajin: Din, setelah nulis ini, langsung lanjut kerja tugas makalahmu yaah../ SisiSantai: Okeh, okeh.. Hehehe...
Teman-teman, kali ini saya ingin share tentang masalah rasa bahasa. Rasa bahasa dalam definisi saya adalah masalah bagaimana mengungkapkan hal-hal tertentu lewat bahasa tulisan. Rasa bahasa bukan saja terkait dengan diksi (pemilihan kata), tapi -setidaknya bagi saya, berhubungan erat dengan pemilihan tanda baca, pemilihan huruf kapital, bahkan masalah italic, bold, atau underline-nya sebuah teks.
Saya terlahir dan tertakdir untuk hidup akrab dengan dunia literer. Kamar pertama saya adalah bekas perpustaskaan bapak yang ditambahkan tempat tidur kecil dan meja belajar bekas. Benda yang rutin dibelikan kepada saya bersaudara adalah buku cerita tiap bulan setelah bapak gajian. Dan dimasa kecil, benda berharga bagi saya adalah lembaran kertas HVS yang bisa saya gunakan untuk menulis cerita atau membuat komik. Belakangan, baru saya ketahui, bahwa pertemuan kedua orang tua saya pun terajut secara apik lewat lembar-lembar surat yang dilayangkan bapak kepada ibu pada masa pedekate mereka. (Stt..jangan bilang siapa-siapa yaah.. hehehe...)
Maka, ya, saya telah terbiasa dengan kata-kata sejak lama. Maka, saya pun tumbuh dengan tingkat sensitivitas 'rasa bahasa' yang cukup 'parah'. Untungnya, hal itu kemudian bisa saya kendalikan dengan memahami bahwa tidak semua orang memiliki rasa bahasa yang sama. Tapi, saya kadang tetap kecolongan. Misalnya saja, kejadian saat masa KKN ini:
Seorang teman seposko telah duluan melakukan kegiatan pendataan hingga titik yang cukup jauh. Saya yang waktu itu masih stay di posko kemudian menerima smsnya. Saya pun mengabarkan bahwa personel posko kami sebagian besar masih pada santai dan belum beranjak untuk turut mendata. Nah, kawan ini kemudian mengeluh, lewat bahasa sms, beliau menuliskan kekecewaan dan protes kepada saya yang dia anggap kurang bisa mengkoordinasi teman-teman, setidaknya itu yang bisa saya tangkap dari bahasa tulisannya. Akibatnya, saya kemudian memaksakan untuk segera mendata, meski dalam situasi yang sebenarnya kurang begitu pas. Setelah kembali ke posko, saya baru sadar, ternyata kawan tadi tidak sedang benar-benar 'marah'. Dia malah mengaku hanya bercanda dan tidak sejatinya mengeluh lewat sms tadi. Namun, rasa bahasa yang saya tangkap berbeda, dan saya salah.
Sensitivitas pada rasa bahasa ini membuat saya kemudian menjadi kurang 'nyaman' dengan deretan kata-kata yang diakhiri dengan tanda seru; bagi saya, itu bermakna teguran keras, kemarahan, dan bentakan. Saya pun terganggu dengan penggunaan tanda tanya yang lebih dari tiga, bagi saya itu berlebihan. Apalagi, dengan penggunaan koma yang berderet-deret, bagi saya itu adalah pemborosan tanpa makna. Pun termasuk dengan deretan titik-titik panjang yang bagi saya tidak ada artinya. Dan huruf kapital pada seluruh kata adalah lambang teriakan keras, apalagi kalau diakhiri dengan tanda seru juga!
Maka kemunculan komunitas 4L4Y yang heboh dengan kombinasi huruf kecil dan kapital yang berantakan, belum lagi dengan sisipan angka dan simbol-simbol yang menggantikan huruf, JELAS membuat saya sangat tersiksa. Grrr....
Tapi kemudian saya sadar, bahwa memang tidak semua orang sama. Tidak semua orang 'tidak nyantai' seperti saya yang mungkin agak heboh dalam menanggapi hal ini. Beberapa orang terbiasa menggunakan tanda seru meski ia tidak sedang ingin menyeru. Yang lainnya memang hobi menggunakan deretan panjang koma dan tidak mempermasalahkannya. Dan anak-anak alay itu, saya akhirnya mengerti, bahwa dibutuhkan 'kerja ekstra' untuk dapat membuat deretan kata sebagaimana ciri khas mereka menuliskannya. Iy44 gaKk sYiicH... *kalimat terakhir membutuhkan waktu lama untuk membuatnya. Yah, menjadi alay ternyata butuh pengorbanan :p
Maka pada akhirnya, rasa bahasa kembali kepada individu masing-masing. Dan kita yang hidup berdampingan dengan manusia lain, dengan kebutuhan komunikasi lewat tulisan yang semakin meningkat seiring dengan berkembangnya teknologi, agaknya memang memerlukan toleransi ekstra terhadap manusia lain, agar dapat tetap dapat saling memahami, dan menerima pesan dengan lebih baik, tanpa ada kesalahan persepsi yang berarti. Semoga yah...
Senin, 20 Februari 2012
Telah Terbit, Jeda Sejenak!

Jeda Sejenak adalah kumpulan tulisan renungan tentang bagaimana melewati hidup dengan lebih berarti. Terkadang, karena derap waktu yang begitu cepat, tanpa sadar kita melewati berbagai macam peristiwa yang sejatinya sarat akan makna. Tulisan ini hadir sebagai ajakan untuk berhenti sesaat dari berbagai aktifitas kita, untuk tafakur dan merenungi tentang nikmat Allah yang begitu banyak, tentang eksistensi kita sebagai khalifah di muka bumi, juga tentang kematian yang pasti datangnya, namun begitu sering kita lupa. Teori-teori yang melekat di antara tiap untai kalimatnya dan pada bait-bait sajaknya mungkin telah kita hafalkan di luar kepala. Namun, agaknya kita selalu butuh waktu untuk dapat memahaminya, bukan hanya dengan akal, tapi juga dengan hati. Agar lebih mudah mengejawantahkannya dalam bentuk amal nyata. Dalam derap langkah penuh kesyukuran, kepada cinta kita untuk kebenaran, dan dalam perjalanan pulang ke negeri akhirat, seharusnya kita selalu mengambil rehat untuk jeda sejenak.
1. Belanja Online melalui Situs Leutika Prio
- Bagi yang tinggal di daerah Yogyakarta dan sekitarnya *hemat ongkos kirim
- Register dulu di http://www.leutikaprio.com/daftar
- Klik beli di sini lalu akan tampil total biaya yang harus dikeluarkan
- Masukkan verifikasi kode kemudian klik check out
- Selanjutnya cek email, transfer uang ke bank dan lakukan konfirmasi pembayaran
- Pesanan buku insyaAllah akan diantarkan ke alamatmu :D
2. Belanja Online melalui Penulisnya Langsung
- Khusus untuk daerah Makassar dan sekitarnya (untuk wilayah luar Makassar juga boleh, tapi jangan lupa ongkinya yah.. :p, dananya bisa dikirim via rekening)
- Kirim nama dan alamat lengkap melalui email ke diena_rifaah@yahoo.com atau via inbox FB: Diena Rifaah, no rekening akan diinfokan ke kamu setelah konfirmasi pembelian ini (untuk luar Makassar).
- Buku akan diantarkan kepada kamu :D
Selamat membaca, semoga bermanfaat :D :D :D
Minggu, 19 Februari 2012
[DibalikLembar] Jeda Sejenak!
Maka menulislah; agar jutaan pembaca menjadi guru yang meluruskan kebengkokan, mengingatkan keterluputan, membetulkan kekeliruan (Salim. A. Fillah)
Akhirnya penantian itu berakhir juga. Setelah tiga pekan lamanya menanti datangnya sang buku perdana, hari ini dia muncul dengan ‘kemunculan-hening’. Ya, saat saya dengan santainya berjalan menuju pintu keluar, hendak ke kampus, adik saya muncul dan berkata dengan gerak mulut tanpa suara; “Bukumu sudah datang…”. Ya, berbeda betul dengan grasa-grusu yang begitu anarkis yang sempat terjadi beberapa kali saat saya sayup-sayup mendengar suara motor berhenti di depan rumah yang saya pikir adalah pak pos yang datang membawa pesanan Jeda Sejenak dari penerbitnya, Leutikaprio di Jogja.
Baiklah.
Berbicara tentang jejak pena, maka Jeda Sejenak sebenarnya telah dimulai penggarapannya sejak bertahun lalu. Tulisan paling ‘tua’ saya kira adalah puisi ‘Bukan Langit yang Biru’, yang kalau tidak salah saya buat di masa SMA, dalam perjalanan pulang sekolah di atas becak. Sedangkan tulisan paling bungsu adalah esai ‘Nanti akan Ada Waktunya’ yang saya buat di bulan September tahun lalu. Kesemua tulisan itu awalnya bukan dimaksudkan untuk menjadi sebuah buku. Mereka (tulisan-tulisan itu) adalah penghuni blog yang saya buat sejak kelas dua SMA lampau. Namun, atas saran beberapa orang kawan, saya akhirnya memutuskan untuk menggarap ulang mereka, dan menjadikannya sebagai sebuah kesatuan buku berjudul Jeda Sejenak.
Buku Jeda Sejenak ini saya susun bersamaan dengan masa penyelesaian skripsi. Sebenarnya, proyek ini menjadi semacam refreshing saya ditengah carut marut skripsi dan birokrasi dalam menuntaskan masa kuliah S1. Awalnya, saya berencana ingin mengerjakannya secara fokus. Saya pikir, memilah dan memilih dari sekian banyak tulisan untuk dipilih yang (saya anggap) terbaik dan layak untuk dibukukan, kemudian mengeditnya (dan menemukan betapa banyak kesalahan menulis yang saya lakukan dimasa lalu), lalu mengelompokkannya menjadi tiga bagian besar, kemudian menyusunnya menjadi satu rangkaian yang enak dibaca, mengirim ke penerbit, merancang deskripsi cover,mencari orang-orang yang sudi untuk memberikan endorsement, dan menuntaskan administrasi, adalah sebuah pekerjaan besar yang tidak bisa saya lakukan sambil nyambi-nyambi dengan pekerjaan lain. Apalagi sambil mengerjakan penelitian dan skripsi!
Saya yang (sejujurnya) agak ogah-ogahan mengerjakan skripsi pun akhirnya membuat sebuah keputusan untuk meletakkan diri saya pada posisi terjepit. Ya, saya harus segera menerbitkan buku ini. Tapi, saya juga harus mengerjar target selesai kuliah. Makanya, saya kemudian menargetkan; baru boleh menyentuh proyek buku jika skripsi telah rampung dan sidang istbat, eh..maksudnya ujian sidang saya kelar. Hal ini (ceritanya) untuk memotivasi saya agar bisa cepat selesai kuliah dan juga cepat menyelesaikan proyek buku ini.
Namun ternyata, saya tidak bisa menunggu.
Ya, saya terus-menerus melirik proyek buku ini ditengah pantulan skripsi. Hingga kemudian saya memutuskan untuk mengeksekusi keduanya dalam waktu bersamaan. Maka jadilah, penyusunan buku ini saya jadikan refreshing ditengah tugas akademik tersebut.
Akhirnya, naskah buku saya siap sebelum naskah skripsi saya rampung untuk disidangkan. Pada hari keduapuluhsatu di bulan November, saya mengirimkan naskah Jeda Sejenak ke Leutikaprio untuk diproses.
Buku ini menjadi terbagi pada tiga bagian besar.
Di Jeda Pertama, saya menamainya dengan Derap Langkah Kesyukuran, pada bagian ini, saya membahas tentang bagaimana mensyukuri hidup. Saya percaya, dalam setiap syukur, ada kesabaran, maka semoga untai tulisan yang dibuka dengan puisi ‘Perjalanan’ dan ditutup dengan ‘Menunggu; Menjaga’ itu bisa menginspirasi kita untuk selalu memberi ruang pada diri agar bisa menggandeng syukur atas segala macam nikmat yang mungkin kadang kita anggap sepele. Betapa pengejawantahan rasa syukur itu sendiri sebenarnya merupakan sesuatu yang sangat kompleks dan sama sekali tidak sepele. Di bagian ini, secara personal saya menuliskan pula kisah tentang nostalgia di masa SD, untuk guru-guru saya, kawan-kawan saya, dan semua orang yang ada di masa menyenangkan itu. J
Di Jeda Kedua, saya memberinya judul bab Ada Cinta untuk Dakwah. Bagian ini menguraikan jejak-jejak perjalanan di jalan cahaya. Tentang kisah para Nabi, tentang kepedulian kita pada pelestina, tentang eksistensi kita sebagai khalifah. Awalnya, ada kekhawatiran sendiri untuk mengguna kata ‘dakwah’ dalam judul bab. Namun akhirnya saya sadar, bahwa masing-masing kita agaknya tidak boleh lagi mengkhususkan dakwah kepada anak pesantren atau para kiai saja. Sebab dakwah adalah tugas kita semua. Dan menyampaikan kebenaran sekecil dan sesederhana apapun itu, sesungguhnya adalah cara untuk masuk ke dalam jalan sepi tersebut. Jalan dakwah. Dan jalan dakwah tidak akan pernah berpisah dari indahnya ukhuwah. Maka pada bagian ini, saya menuliskan kenangan pada masa SMA dengan keasyikan rohis, juga masa-masa menjadi pengurus dalam sebuah forum yang kembali bersinggungan dengan dakwah sekolah. Juga tentang para akhwat yang membersamai saya di sana. J
Di Jeda Ketiga, saya menyebutnya Dalam Perjalanan Pulang. Bagian terakhir ini, mengeksplorasi issue tentang kematian, semoga bukan dengan cara yang mengerikan. Bagi saya, kematian adalah sebuah nasihat yang sangat nyata. Saya pernah melewati masa-masa dimana saya merasa sangat dekat dengan kematian, suatu waktu saya dihadapkan dengan vonis kematian saya sendiri, di kesempatan yang lain saya menyaksikan orang-orang terdekat yang pergi untuk selamanya. Itu semua, saya rasa sangat sia-sia tanpa saya bagikan dalam buku ini. Sebab mengingat mati sebenarnya akan mengingatkan kita tentang bagaimana hidup dengan lebih berarti. Suatu puisi saya buat di masa awal perkuliahan di Farmasi Unhas yang saya rasa sangat berat. Puisi berjudul ‘Suatu Saat’ itu saya persembahkan untuk teman-teman seperjuangan, Mixtura’07. Betapa sebenarnya saya saat itu sangat khawatir, takut bahwa nyawa saya akan dicabut dalam keadaan menulis laporan saking seringnya melakukan pekerjaan tersebut. Namun, akhirnya semua terlewati dengan caranya masing-masing. J
Karena tulisan-tulisan ini awalnya adalah untuk keperluan blogging, maka awalnya saya sempat tidak pede untuk membukukannya. Saya menganggap catatan ini sebagai sesuatu yang terlalu personal dan tidak layak untuk dikonsumsi publik. Namun, oleh Haniyah, saya kembali diingatkan bahwa banyak hal yang terjadi dalam hidup kita yang kadang juga dialami oleh banyak orang. Dan membagikan pengalaman pribadi tidak selalu berarti terlalu mengekspos diri. Hanya saja, di setiap cerita memang harusnya selalu ada manfaat yang bisa diambil oleh pembacanya. Maka, saya kembali bangkit.
Kekhawatiran berikutnya timbul saat saya kemudian sadar bahwa tulisan blog ini sebenarnya bisa saja dibaca oleh orang-orang dengan gratis, maka mengapa harus membuat buku berbayar untuk mengumpulkannya? Kegalauan itu kemudian saya sampaikan pada Kak Ai (Sari Yulianti) yang saya akrabi lewat blog di Multiply. Beliau juga telah lebih dulu menulis buku ‘Surga di Bawah Telapak Kaki Ayah’ yang juga diangkat dari blognya. Oleh Kak Ai saya mendapat nasihat, bahwa tidak semua orang dapat mengakses internet, maka dengan membukukannya, kita sedang mempermudah orang lain untuk memperoleh ‘nilai’ dari buku itu. Dan nilai tersebut memang agak sulit untuk dinominalkan dalam rupiah. Dan hal ini kemudian saya sadari saat saya mendapati tatap mata penuh antusias dari ibu penjaja nasi kuning di mushalla. Ia menatap buku saya dan membacanya dengan semangat. Ah.. Kak Ai memang benar.
Sejak bergabung dalam keredaksian sebuah majalah, saya seringkali dihinggapi rasa takut. Saya takut kepada orang-orang yang telah merelakan hartanya demi membeli majalah kami; saya takut ia tidak mendapatkan sesuatu yang lebih baik daripada uang yang sudah ia ‘korbankan’ itu. Rasa takut ini terang saja lebih hebat saat saya menjual buku saya sendiri. Dengan harga yang berkali lipat dari majalah tadi, saya sesungguhnya selalu khawatir bahwa nilai itu terlalu ‘mahal’ untuk tulisan-tulisan sederhana yang saya buat itu.
Namun, saya tahu. Saya hanya sedang berusaha. Saya sedang mencoba untuk meninggalkan jejak di muka bumi ini, agar kelak yang tersisa dari saya bukan hanya sekadar beberapa kata di batu nisan. Tapi begitu banyak kata yang saya sumbang lewat karya berupa buku. Saya sedang berusaha mewariskan nilai, meski mungkin sangat sedikit, meski mungkin terlihat kecil dan sepele saja, namun setidaknya saya berusaha. Dengan segala kerendahan hati, saya mempersembahkan karya ini. Bukan agar orang lain memandang saya lebih dari siapapun. Demi Allah, bukan! Aih, terlalu banyak aib saya yang Allah tutupi sehingga saya masih bisa berjalan di muka bumi dengan kepala tegap!
Karya ini adalah sebuah tugas hidup. Saya kini sedang menyerahkannya kepada kalian; para guru yang telah sudi memesan buku ini dan mengeluarkan uang untuk mendapatkannya. Kepada kalian, saya begitu berterima kasih dan berharap ada koreksi, ada teguran, kritik, dan masukan, atas tugas yang sedang saya kumpulkan. Nilailah! Dan saya bahkan sudah pernah mendapati tulisan saya dirobek di depan mata saya sendiri, maka untuk kritik yang paling pedas sekalipun; insya Allah saya siap.
Saya sering ‘disoroti’ karena dianggap terlalu sering ngalor ngidul di dunia maya. Mungkin kesannya saya terlalu eksis; dengan nama asli pula! Maka; Iya, saya sadari bahwa memang terkadang aktifitas di dunia maya begitu melenakan. Tapi, sejujurnya saya mendapatkan banyak manfaat darinya. Buku ini pun, menemukan jalannya di dunia maya. Saya pun, mendapatkan banyak kawan sehobi, bahkan bisa berakrab ria dengan penulis yang di masa lampau hanya bisa saya baca karyanya. Maka berselancar di dunia maya dengan identitas blak-blakan ini pun saya lakukan agar saya bisa istiqamah. Agar saya bisa tersorot dengan jelas, sehingga banyak yang bisa mengingatkan saat saya tidak berada pada jalur yang sebenarnya. Saat seseorang bisa menghantam kesadaran saya saya ia berujar; jangan lemah, ini bukan kamu yang saya kenal dengan tulisan-tulisan itu!
Maka sungguh, tidak ada satu pun yang saya harapkan kecuali bahwa Jeda Sejenak ini bisa membawa manfaat bagi saya dan kamu, yang sudi membacanya. Semoga menjadi amal kebaikan bagi masing-masing kita. Semoga kita peroleh hidayah dan menuju kampung akhirat dengan kesudahan yang indah. Aamiin…
