Rabu, 27 November 2013

Jawaban di Puncak Mahameru




Judul buku          : Altitude 3676 Takhta Mahameru
Penulis                 : Azzura Dayana
ISBN                      : 978-602-8277-92-1
Penerbit              : Indiva
Ketebalan           : 416 hal
Ukuran                 : 14x20 cm
Harga buku         : Rp 62.000
 


Apa yang ada di pikiran seorang gadis sehingga rela menempuh rangkaian perjalanan panjang hanya bermodal foto-foto yang diterimanya lewat e-mail? Pertanyaan itulah yang menghantui pikiran saya sepanjang membaca buku ini. Altitude 3676 Takhta Mahameru ini ditulis dengan apik oleh Azzura Dayana dengan membawa pembaca ikut serta dalam petualangan Faras, seorang gadis lugu dari Ranu Pane di kaki gunung Semeru. Faras yang seorang tamatan SMA nyatanya bukanlah gadis desa biasa. Kegemarannya membaca buku membuatnya memiliki pemikiran yang maju dan terbuka. Ia menjadi gadis cerdas yang gemar menghapalkan larik-larik dari penyair favoritnya, Kahlil Gibran.

“Kahlil Gibran juga yang mengatakan ‘Berilah aku telinga maka aku akan memberimu suara.’ Itulah mengapa tadi kubilang, harusnya aku mendapatkan cerita, setelah kukatakan aku siap menyimak.” (Faras, hal. 93)

Gadis ini kemudian ditakdirkan berjumpa dengan seorang pemuda bernama Raja Ikhsan. Berbeda dengan Faras yang tipikal peramah dan supel, Ikhsan justru sebaliknya. Ia adalah lelaki yang tumbuh dengan menabung dendam kesumat di dadanya. Terlahir dari seorang wanita yang merupakan istri kedua, Ikhsan harus menerima kenyataan saat ternyata ayahnya justru kembali ke pelukan istri pertamanya. Tidak hanya sampai di situ, istri tua ayahnya itu terus meneror ibunya yang dianggap sebagai perusak rumah tangga mereka. Tidak heran jika kemudian pemuda ini memiliki sepuluh alasan untuk membunuh ayahnya sendiri, lelaki yang ia anggap menjadi penyebab segala penderitaan yang ia alami. Juga tentu saja membalas teror kepada istri ayahnya yang disinyalir telah menyebabkan ibunya bunuh diri.

Tidak cukup dengan dua tokoh yang bersebrangan kepribadian itu, penulis juga menampilkan Mareta, seorang gadis kaya yang hidup dengan segala modernitasnya. Pertemuannya yang tidak terduga di Borobudur dengan Faras justru mengantarkan keduanya menjadi rekan seperjalanan hingga tiba di Bira, sebuah daerah di Sulawesi Selatan. Mareta,  cewek metropolitan itu tentu nampak bagai langit dan bumi dengan Faras yang berjilbab rapi dengan tutur kata yang terjaga.

Ketiga tokoh ini terlibat dalam rangkaian cerita yang disajikan dengan alur maju-mundur dan sudut pandang Faras, Mareta, dan Ikhsan secara bergantian. Tiga kepribadian berbeda yang ternyata terhubung pada satu benang merah. Tiga sudut pandang ini memberikan ruang kepada pembaca untuk lebih menyeksamai tiap karakter tokoh-tokoh tersebut, serta memandang setiap kejadian di dalam cerita lewat angel yang berbeda-beda. Hal ini membuat pembaca memiliki pengetahuan yang utuh tentang berbagai konflik di dalam novel ini.

Perjumpaan antara Ikhsan dan Faras yang hanya terjadi tiga kali saat Ikhsan hendak mendaki Semeru rupanya menjadi asal muasal dari cerita ini. Selanjutnya, hubungan yang aneh –kadang manis, namun bisa berubah menjadi dingin, antara Faras dan Ikhsan kemudian terus berlanjut lewat cara yang tidak kalah anehnya; e-mail satu arah dari Ikhsan yang berisi foto-foto tempat yang ia dikunjungi selepas perpisahannya dengan Faras di Ranu Pane. Atas dasar itulah, Faras menelusuri jejak Ikhsan hingga pergi ke Borobudur, menyebrang ke Pulau Sulawesi menuju Bira di Bulukumba, lalu kembali lagi ke kampung halamannya di kaki gunung Semeru.

Satu per satu kejadian yang melatarbelakangi cerita ini terkuak di setiap lembaran bukunya. Pembaca pun dikocok emosinya lewat ketegangan demi ketegangan saat mengikuti hidup Ikhsan yang keras dan penuh dengan rencana sadis. Pada satu titik mungkin pembaca pun akan ikut kebingungan pada kepribadian Ikhsan yang tiba-tiba berubah menjadi begitu peduli dan bijaksana pada sebuah keluarga di Bira yang menjadi sedemikian suram ketika kehilangan dua anak mereka. Anak gadis yang dibawa pergi oleh kekasihnya karena tidak direstui oleh keluarganya, dan yang lelaki mati muda saat mengejar pemuda yang membawa lari adik perempuannya itu. Tragedi itu berkaitan dengan aturan adat guna menjaga kehormatan keluarga mereka. Jika pembaca tidak jeli mengikuti ‘penjelasan dari penulis’ lewat flashback kejadian sebelum peristiwa tersebut, mungkin pembaca akan menilai adanya inkonsistensi dalam penggarapan karakter Ikhsan. Mengapa seolah-olah dengan mudahnya warna hati pemuda itu menjadi berubah?

Berbagai ketegangan dari kehidupan Ikhsan yang begitu semrawut akan tercairkan saat mengikuti tiap deskripsi setting yang dipaparkan dengan detail oleh sang penulis. Dalam hal ini, terasa betul betapa penulis sangat menguasai latar tempat yang ia gunakan. Keindahan Borobudur, eksotisnya Bira, kebudayaan dan sejarah suku Bugis yang gagah berani, bahkan tentang adat yang masih dipegang kokoh oleh sebagian masyarakatnya, serta keelokan pemandangan alam yang disuguhkan dalam pendakian menuju Puncak Mahameru. Penulis yang juga seorang backpacker dan gemar panjat gunung ini, juga menuturkan dengan apik tentang berbagai tetek bengek pendakian Semeru yang seru dan menegangkan. Selain itu, di beberapa bagian buku ini juga mengutip petikan syair nasyid dan lagu, serta sajak-sajak yang memesona dan menyimpan makna mendalam.

Menjadi air harus menjadi ricik. Sampai-sampai hujan yang kesekian kerap juga menemani perjalanan cinta kita. Hujan di langit itu. Hujan di matamu” Sajak Kecil tentang Cinta, Sapardi Djoko Damono. (Faras, hal. 113).

Layaknya ciri khas buku terbitan Indiva yang lain, buku ini juga tidak melulu hanya berupa rangkaian cerita tanpa makna. Idealisme dan nilai-nilai religius dan spiritual juga terasa kental di dalamnya.

“Kata apa lagi yang sanggup kami ungkapkan untuk memuji Allah,” tambah Faras dalam gumamnya. “Untuk semua kehebatan penciptaan ini. Padahal Mahameru baru satu bagian kecil saja dari seluruh ciptaanNya di semesta raya.” (Faras, hal 413)

Bahkan, hubungan antara Faras dan Ikhsan juga tidak dieksplorasi dari sudut romantika belaka, namun lebih kepada tanggung jawab antar sesama muslim untuk saling menasihatkan kepada kebaikan. Namun, hal ini bisa saja justru menjadi sebuah bumerang, saat pembaca akhirnya bertanya-tanya, bagaimana sebenarnya perasaan antara Faras dan Ikhsan? 

 
Ya, tak ada gading yang tak retak. Setidaknya, saya menemukan sebuah kejanggalan dalam novel bercover pemandangan ‘negeri awan’ dari atas gunung ini. 

Iya, saking sayangnya aku padanya, sampai aku ingin kubunuh suaminya.” (Ikhsan, hal.115). Kalimat ini tentu lebih enak dibaca jika kata ‘aku’ yang kedua dihilangkan. Semoga ini hanya kesalahan pengetikan belaka.


 Lalu, apa sebenarnya hubungan Mareta dengan Ikhsan? Dan mengapa Faras tidak kunjung menemukan Ikhsan meski telah mengikuti petunjuk foto dalam e-mail yang ia terima? Apa yang hendak disampaikan gadis itu hingga rela menempuh perjalanan yang begitu jauh? Dan sanggupkah Ikhsan menanggalkan semua kebencian dan dendam yang ia pelihara?

Begitu jauh para tokoh ini melanglang buana. Namun, layaknya kehidupan, terkadang jawabannya justru ditemukan pada titik mula. Maka semua pertanyaan itu pun terkuak di Ranu Pane dan terjawab dengan tuntas di ketinggian 3676 meter di atas permukaan laut, di Puncak Mahameru.

Lewat Altitude 3676 Takhta Mahameru ini, Azzura Dayana berhasil mengusung nilai-nilai kehidupan yang dipaparkan dengan begitu halus dan cerdas, plus dengan gaya bertutur yang indah dan tidak menggurui. Karena itulah, novel ini tentu sangat layak untuk dibaca dan direnungi. Selamat!

Sabtu, 31 Maret 2012

Blogshop N5M: Penulis pun Harus Bersemangat Man Jadda Wajada!

Akhirnya tiba juga hari yang ditunggu-tunggu. Pagi ini matahari bersinar cukup cerah. Lengkap dengan gumpalan awan yang sesekali berarak mengikuti arah angin. Hari terakhir di bulan Maret ini adalah jadwal event Blogshop Kompasiana yang dirangkaikan dengan roadshow Negeri Lima Menara. Tapi, pergulatan batin saya dimulai ketika ibu mulai menanyakan rencana saya hari ini. Setelah mengatakan bahwa hari ini saya akan ada kegiatan, mimik wajah ibu berubah.

“Tiap hari libur, selalu saja ada kegiatan! Sekali-sekali tinggallah di rumah…” ujar Ibu tanpa menatap wajah saya.

Seketika, semangat yang sudah meletup sejak sukses register di page event ini, memudar seketika. Apalagi mengingat bahwa besok pun saya ada kegiatan yang cukup penting dan tidak bisa ditinggalkan. Maka, pilihan untuk batal mengikuti acara ini pun mulai muncul di benak saya. Namun, saya langsung sadar; jarang-jarang di Makassar ada acara seputar kepenulisan yang dihadiri oleh seorang penulis nasional, terkenal pula! Rasa-rasanya, saya akan menyesal jika melewatkan kesempatan yang terbatas ini.

Maka, setelah sempat carmuk (cari muka, red) pada ibu, meski harus agak memhabiskan waktu dan mengacaukan schedule yang sudah saya ancang-ancang dari semalam, saya pun akhirnya memberanikan diri untuk melakukan lobi.

“Hari ini, ada penulis terkenal yang mau datang lho…” ucap saya pada ibu, lengkap dengan puppy-eyes.
 
Ibu menatap saya, ia hapal betul dengan tingkah macam itu. Dan ibu tahu bahwa minat saya di dunia kepenulisan memang sudah cukup merasuk jiwa. Maka, meski tidak berucap apa-apa, saya mengerti bahwa tatapan mata itu adalah pertanda dari sebuah restu untuk bisa ikut blogshop kali ini. Yay!
***
Terinspirasi dari tayangan televisi yang masih hot membahas perihal hasil sidang harga BBM semalam, maka sebelum menuju kamar mandi, saya mencoba untuk nangkring di depan laptop dulu. Kepala saya sudah dipenuhi dengan kata-kata yang ingin saya rangkai menjadi tulisan setelah melihat berita-berita di TV tadi. Akhirnya, tulisan berjudul “Surat kepada Ibu Pertiwi” pun tuntas dalam seperempat jam. Setelah posting ke blog, fb, multiply, dan akun kompasiana, saya lalu beranjak untuk bergegas bersiap. ‘Lobi-lobi politik’ dengan Ibu tadi memang memakan cukup banyak waktu, dan saya telah positif bakal terlambat tiba di ‘TKP’. Nah, sebelum benar-benar meninggalkan rumah, saya sempatkan untuk menengok kembali akun Kompasiana; mengecek bagaimana perkembangan tulisan yang baru saya posting. Alhamdulillah, ternyata masuk kolom highlight. Padahal, mungkin seperti beberapa kawan lainnya, akun ini awalnya saya buat ‘cuma’ untuk ikut acara blogshop. Hehehe…

Sekitar setengah jam, saya pun tiba di Gedung BI. Casio yang melingkar di tangan saya menginformasikan bahwa saya sudah telat cukup parah, sekitar satu jam lebih! Hmm..,setidaknya masih lebih baik daripada tidak datang sama sekali, khan? Tapi, imbasnya, saya harus ikhlas untuk dapat posisi duduk di belakang (yang lumayan bikin disorientasi, hehehe…) dan tidak lagi kebagian souvenir berupa kaos kompasiana yang dengan bangga ditenteng oleh para peserta lain. Heu…

Saya memasuki ruangan acara. Sebuah ruangan yang nyaman dengan dominasi warna coklat muda di dalamnya. Terdapat hiasan perahu pinisi kebanggaan suku bugis dan lukisan besar di beberapa sudut. Meja-meja bundar yang dikelilingi oleh para peserta nampak tersebar di ruangan itu. Lengkap pula dengan colokan listrik yang mempermudah peserta yang membawa serta gadgetnya, sesekali ada saja peserta yang Nampak tersandung colokan-colokan itu.

Acara hari ini disponsori oleh iB Perbankan Syari’ah. iB adalah singkatan dari Islamic-Banking, atau yang lebih kita kenal dengan istilah Bank yang berbasis syari’ah. Saat ini, antusias masyarakat kepada bank-bank syariah memang terlihat cukup baik. Meski, produk yang ditawarkan sebenarnya hampir mirip dengan produk bank konvensional, namun sistem syariah yang berada di dalamnya insyaAllah akan memberi ketenangan tersendiri kepada nasabah. Mungkin, itu yah yang membuat mereka betah! Saya bersyukur, bahwa iB Perbankan Syariah ini berkenan untuk mensponsori program-program acara yang penuh manfaat dan menarik seperti blogshop Kompasiana ini! ^_^

Bernarasi bersama Kang Pepi
1333211674966923041
Kang Pepi sharing tentang narasi

Pada saat tiba di ruangan, ternyata acara sudah memasuki sesi yang ketiga. Pada bagian ini yang menjadi pemateri adalah Kang Pepi Nugraha. Pada awal materi, beliau menceritakan tentang kedekatannya dengan Kota Makassar. Selanjutnya, dengan fasih Kang Pepi menyebutkan nama-nama penyanyi lokal Makassar dan banyak menyinggung tentang beberapa tempat dan budaya yang ada di Makassar. Oh iya, Kang Pepi juga memberikan tips untuk memecahkan kebuntuan menulis pada para peserta!

“Menulislah seperti bagaimana kita bercakap, bukan seperti bagaimana orang lain menulis”, pungkas pria asal Jawa Barat ini.

Ya, sudah seharusnya proses menulis pun kita sederhanakan. Sebab, kita menulis bukan untuk diri sendiri, tapi untuk dimengerti oleh orang lain. Maka, tidak usah memutar otak untuk memikirkan hal-hal yang ribet jika pada akhirnya pembaca tidak menangkap apapun dari yang kita tulis. Sederhanakan saja, lalu temukan proses kreatif dan ciri khas tulisan kita sendiri! Kang Pepi juga menekankan untuk selalu melibatkan emosi dalam menulis. Dalam hal ini, bukan berarti menulis itu harus dikerjakan sambil marah-marah, yah… Tapi, perasaan apapun yang kita rasakan, sebisa mungkin juga turut terwakilkan pada tulisan kita, sehingga akan terciptalah tulisan yang tidak membosankan. Tulisan yang berisi suara hati juga bisa mencerminkan kepribadian kita saat menulis, lho!

Materi Kang Pepi sendiri sebenarnya berfokus tentang narasi. Lewat slide-slide yang ditampilkan, jurnalis yang dalam kesempatan tersebut mengenakan jaket yang matching dengan warna ruangan itu, banyak memaparkan tentang teori-teori seputar tulisan jenis narasi ini. Mulai dari ciri-cirinya, tujuannya, kriterianya, juga bagian-bagian yang harus ada dalam sebuat tulisan yang naratif. Beliau juga memberikan contoh seputar komponen-komponen dalam sebuah narasi. Tidak ketinggalan pula tentang pembahasan mengenai sudut pandang dalam sebuah tulisan.

Sudut pandang orang pertama yang menggunakan kata sejenis ‘aku’, dan sudut pandang orang ketiga yang menggunakan kata ganti orang ketiga pula. Para peserta Blogshop Kompasiana hari itu kebanyakan lebih sering menggunakan sudut pandang yang pertama. Meski, menurut Kang Pepi, sebenarnya lebih aman menggunakan sudut pandang orang ketiga yang memang lebih sering dipakai dalam naskah narasi. Selain itu, sudut pandang ini juga cukup netral dan terbebas dari ‘jebakan narsis’. Tapi bagi saya, selama kita nyaman dan bisa membuat tulisan dengan perasaan hati yang enak, rasanya sudut pandang apa saja akan menjadi lumrah. Ini menurut saya yah…

Kopdar dan Hunting Posisi Strategis
Di masa istirahat selepas menyantap hidangan yang disediakan oleh panitia dan menunaikan shalat Dhuhur, saya kembali ke ruangan acara yang nampak masih ramai dengan peserta yang lalu lalang. Saya mengarahkan pandangan ke arah panggung dan langsung mendapati ‘gerombolan’ Ibu-Ibu Doyan Nulis (IIDN) tempat saya juga bergabung dalam grupnya di Facebook. Meski masih tergolong ‘calon ibu’ *halah* saya senang sekali bisa bergabung dengan komunitas ini. Selain karena lebih nyaman karena membernya perempuan semua, banyak pula info-info seputar kepenulisan yang saya dapatkan di sana. Termasuk info blogshop kali ini. Maka saya pun menyempatkan diri bergabung dengan mereka, meski terasa agak canggung, sebab ini adalah kali pertama saya muncul dalam wujud nyata. Hehehe…

Selanjutnya, saya pun membidik seorang junior yang nampak pewe (posisi weenak, red) di kursinya. Tempatnya lumayan strategis untuk menerima materi dan mengambil gambar. Maka setelah lobi-lobi politik lagi, ternyata di sana masih ada satu kursi kosong yang bisa saya tempati. Berhasil! Saya pun memilih hijrah dari posisi awal ke tempat baru yang lebih baik.

1333212089742375357
Kuisnya seru, pesertanya kreatif; Asyik!

Ahmad Fuadi: Membela Impian dengan Menulis
Setelah menunggu sambil ngobrol dengan teman-teman baru di meja tersebut dan ketawa-ketiwi menyaksikan kuis-kuis yang lumayan unik, akhirnya yang dinantikan datang juga! Seorang pria berkacamata dengan kemeja biru kotak-kotaknya. Sosok ini sebelumnya hanya dapat saya saksikan di sampul belakang dalam buku yang ia tulis. Ya, dialah Ahmad Fuadi, penulis Negeri Lima Menara dan Ranah Tiga Warna!

13332122481824702998
Akhirnya datang juga! ^_^

Senang sekali rasanya bisa menyaksikan beliau secara langsung, apalagi ditambah dengan materi tentang kepenulisan darinya. Di awal, Bang Ahmad Fuadi memutarkan video tentang perjalanan buku Negeri Lima Menara dan backpacking beliau menjelajahi berbagai macam kota di dunia, plus dengan penghargaan-penghargaan yang didapatkan dari hasil karyanya. Peserta juga disuguhkan dengan proses awal hingga akhirnya novel pertamanya berhasil difilmkan, dan jalannya syuting film Negeri Lima Menara mulai dari Pesantren Gontor hingga ke Inggris.

Bang Fuadi memberikan motivasi tentang pentingnya seseorang menulis, juga bahwa sebagai penulis, kita harus paham mengapa seseorang ingin membaca. Maka alasan semisal; untuk mengetahui, untuk menghibur, dan untuk melepaskan diri dari kepenatan kehidupan nyata, harus bisa di-cover oleh seorang penulis agar dapat membuat tulisan yang ingin dibaca oleh orang lain.

Sebutir peluru mungkin bisa menembus sebuah kepala, namun satu kata bisa menembus ratusan bahkan jutaan kepala dalam satu waktu bersamaan” ucap Bang Fuadi untuk semakin meyakinkan para peserta agar lebih bergiat dalam menulis.
 
Nah, rupanya menulis juga bisa membuat kita awet muda dan akan terus dikenang, lho! Sebab, setiap jiwa akan merasakan mati. Setiap manusia memiliki limitnya masing-masing. Tapi, jika kita meninggalkan kenangan berupa tulisan, tulisan itu akan terus hidup, meski kita telah tiada. Bang Fuadi menyebut sebuah nama; Ibnu Rushd, seorang filsuf Islam di abad kedua belas itu. Maka sebenarnya, kita punya cukup banyak nama semisal: Imam Bukhari, Ibnu Qayyim, Ibnu Taimiyah, HAMKA, Rendra, dan masih banyak nama lainnya, yang mungkin kini jasadnya telah terkubur, namun kita masih dapat merasakan keberadaan mereka lewat karya-karya mereka. Lewat tulisan-tulisan mereka! Maka ya, diri kita boleh saja tua, boleh saja mati. Tapi, tidak dengan tulisan kita! Maka semoga tulisan yang tetap ‘kekal’ itu bisa menjadi jalan bagi kita untuk menjadi manusia terbaik; manusia yang paling banyak manfaatnya!

Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat” demikian sabda Rasulullah Shallalahu Alaihi Wasallam dalam riwayat Thabrani dan Daruquthni.

Bang Fuadi bercerita, bahwa begitu banyak mimpinya yang menjadi nyata lewat tulisan. Tentang bagaimana ia menyambung hidup lewat honor menulis. Dan pada akhirnya, ia yakin bahwa inilah salah satu jalan untuk memberikan manfaat bagi banyak orang. Terbukti, Bang!

Proses Kreatif ala Bang Fuadi
13332123871550929827
Setiap orang menulis dengan caranya masing-masing. Hargai caramu sendiri!

Setidaknya ada empat poin besar yang dipaparkan oleh Bang Fuadi seputar proses menulis yang beliau jalankan. Keempatnya terangkum dalam empat buah kata tanya:
 
Why? Pertanyaan ini akan menjawab niat dan tujuan kita dalam menulis. Untuk Bang Fuadi sendiri, hadits Rasulullah Shallalahu alaihi wa sallam di atas yang beliau dengar dari ustadz di Gontor, menjadi lebih dari cukup untuk menjawab pertanyaan ini. Maka, niat yang lurus dalam menulis akan menjadi suntikan stamina yang tidak akan pernah putus. Memberikan semangat pada saat mulai malas, dan menjadikan kita selalu berupaya mencari jalan untuk tetap konsisten dalam menulis.

What? Mengenali, peduli, senang, dan familiar dengan tema yang akan kita tulis bisa menjadi obat kuat dalam tulisan. Tulisan akan muncul dari dalam hati, dan semoga pun akan sampai ke hati!

How? Mengetahui sebanyak-banyaknya informasi tentang apa yang akan kita tulis, bukan hanya akan membantu untuk melancarkan arus ide, tapi juga membuat tulisan menjadi lebih dalam. Referensi bisa didapatkan dari buku lain dan riset-riset, termasuk juga dari kamus!

“Kapan terakhir kali baca kamus?” pertanyaan Bang Fuadi itu menghentak kesadaran saya. Hmm…, penulis yang baik memang seharusnya rajin membuka kamus. Sebab, kamus akan menambah perbendaharaan kata dan akan memberikan variasi pada setiap tulisan. Ini akan membuat tulisan menjadi lebih baik, sebab tidak banyak pengulangan kata di dalamnya.

Bang Fuadi sendiri, dalam proses menulis Negeri Lima Menara, kembali membongkar tumpukan diari lama, surat-suratnya kepada ibunda, sampai buku tulis yang digunakan saat hari pertama di Gontor dulu. Mau tahu catatan apa yang pertama dituliskannya? Yup, mantera sakti: man jadda wajada!

When? Tidak ada waktu, sibuk kuliah atau kerja, ribet dengan pekerjaan ini dan itu, dan sederet alasan lainnya terkadang menjadi salah satu sebab terjadinya kebuntuan dalam menulis. Maka kapankah waktu terbaik untuk menulis? Ya, saat ini! Seseorang yang memang ingin serius di bidang kepenulisan, sudah seharusnya melowongkan waktu untuk kegiatan menulis, bukan hanya sekadar memberikan porsi ‘waktu sisa’ untuk membuat karya. Konsistensi dalam jadwal menulis tersebut juga perlu dilatih kedisiplinannya. Tidak harus menulis dalam jumlah banyak, yang penting kontinyu. Dalam bagian ini pula, Bang Fuadi menggulirkan sebuah pepatah baru: Sedikit semi sedikit, lama-lama menjadi buku!

Kesemua proses menulis ini, jika dijalankan dengan disiplin dan konsisten, insyaAllah akan berbuah sebuah tulisan yang baik. Bang Fuadi menasihatkan untuk tidak langsung berfokus agar tulisan bisa laku. Sebab, banyak tulisan yang laku, meski belum tentu baik. Namun, sebuah tulisan yang baik, insyaAllah akan laku. Nah, bukankah hanya tulisan yang baik yang bisa mendatangkan kemanfaatan?

Oh iya, ada yang menarik dari sesi tanya jawab. Saat seorang peserta dari Ambon dipersilakan untuk mengambil alih mic. Beliau bertutur tentang anaknya yang baru saja lahir hari itu (konon berencana diberi nama Ahmad Fuadi pula!), juga tentang harapannya bahwa kelak akan ada penerus Andrea Hirata, Ahmad Fuadi, dan penulis hebat lainnya yang bisa lahir dari tanah Makassar. Saya mendengarkan hal itu sambil terus mengaminkan dalam hati, semoga budaya literasi di kampung halaman saya ini bisa terus berkembang. Aamiin…

Pada akhirnya, mungkin sederet materi yang diberikan dalam blogshop ini bisa dengan mudah kita dapatkan di buku ataupun artikel di internet. Tapi, bagi saya pribadi, yang menjadi inti dari acara ini adalah tentang semangat yang tercipta setelah pulang dari gedung BI tadi. Tentang sindrom positif yang akan merasuk kepada setiap peserta untuk lebih semangat lagi dalam menulis. Kita telah menyaksikan begitu banyak tokoh yang terkenal dan menebar manfaat lewat tulisan-tulisannya yang berkualitas. Tapi, kita pun harus sadar, bahwa itu semua mereka dapatkan tidak dengan cara yang instan. Pasti ada kerja keras yang besar di dalamnya. Maka untuk menjadi penulis yang sukses pun, rasanya tidak salah jika kita meminjam mantera dari para shahibul menara: Man Jadda Wajada!

Minggu, 11 Maret 2012

~Rasa Bahasa~


SisiRajin: Din, setelah nulis ini, langsung lanjut kerja tugas makalahmu yaah../ SisiSantai: Okeh, okeh.. Hehehe...

-----------------------------------------------------------------------------------------

Teman-teman, kali ini saya ingin share tentang masalah rasa bahasa. Rasa bahasa dalam definisi saya adalah masalah bagaimana mengungkapkan hal-hal tertentu lewat bahasa tulisan. Rasa bahasa bukan saja terkait dengan diksi (pemilihan kata), tapi -setidaknya bagi saya, berhubungan erat dengan pemilihan tanda baca, pemilihan huruf kapital, bahkan masalah italic, bold, atau underline-nya sebuah teks.

Saya terlahir dan tertakdir untuk hidup akrab dengan dunia literer. Kamar pertama saya adalah bekas perpustaskaan bapak yang ditambahkan tempat tidur kecil dan meja belajar bekas. Benda yang rutin dibelikan kepada saya bersaudara adalah buku cerita tiap bulan setelah bapak gajian. Dan dimasa kecil, benda berharga bagi saya adalah lembaran kertas HVS yang bisa saya gunakan untuk menulis cerita atau membuat komik. Belakangan, baru saya ketahui, bahwa pertemuan kedua orang tua saya pun terajut secara apik lewat lembar-lembar surat yang dilayangkan bapak kepada ibu pada masa pedekate mereka. (Stt..jangan bilang siapa-siapa yaah.. hehehe...)

Maka, ya, saya telah terbiasa dengan kata-kata sejak lama. Maka, saya pun tumbuh dengan tingkat sensitivitas 'rasa bahasa' yang cukup 'parah'. Untungnya, hal itu kemudian bisa saya kendalikan dengan memahami bahwa tidak semua orang memiliki rasa bahasa yang sama. Tapi, saya kadang tetap kecolongan. Misalnya saja, kejadian saat masa KKN ini:

Seorang teman seposko telah duluan melakukan kegiatan pendataan hingga titik yang cukup jauh. Saya yang waktu itu masih stay di posko kemudian menerima smsnya. Saya pun mengabarkan bahwa personel posko kami sebagian besar masih pada santai dan belum beranjak untuk turut mendata. Nah, kawan ini kemudian mengeluh, lewat bahasa sms, beliau menuliskan kekecewaan dan protes kepada saya yang dia anggap kurang bisa mengkoordinasi teman-teman, setidaknya itu yang bisa saya tangkap dari bahasa tulisannya. Akibatnya, saya kemudian memaksakan untuk segera mendata, meski dalam situasi yang sebenarnya kurang begitu pas. Setelah kembali ke posko, saya baru sadar, ternyata kawan tadi tidak sedang benar-benar 'marah'. Dia malah mengaku hanya bercanda dan tidak sejatinya mengeluh lewat sms tadi. Namun, rasa bahasa yang saya tangkap berbeda, dan saya salah.

Sensitivitas pada rasa bahasa ini membuat saya kemudian menjadi kurang 'nyaman' dengan deretan kata-kata yang diakhiri dengan tanda seru; bagi saya, itu bermakna teguran keras, kemarahan, dan bentakan. Saya pun terganggu dengan penggunaan tanda tanya yang lebih dari tiga, bagi saya itu berlebihan. Apalagi, dengan penggunaan koma yang berderet-deret, bagi saya itu adalah pemborosan tanpa makna. Pun termasuk dengan deretan titik-titik panjang yang bagi saya tidak ada artinya. Dan huruf kapital pada seluruh kata adalah lambang teriakan keras, apalagi kalau diakhiri dengan tanda seru juga!

Maka kemunculan komunitas 4L4Y yang heboh dengan kombinasi huruf kecil dan kapital yang berantakan, belum lagi dengan sisipan angka dan simbol-simbol yang menggantikan huruf, JELAS membuat saya sangat tersiksa. Grrr....

Tapi kemudian saya sadar, bahwa memang tidak semua orang sama. Tidak semua orang 'tidak nyantai' seperti saya yang mungkin agak heboh dalam menanggapi hal ini. Beberapa orang terbiasa menggunakan tanda seru meski ia tidak sedang ingin menyeru. Yang lainnya memang hobi menggunakan deretan panjang koma dan tidak mempermasalahkannya. Dan anak-anak alay itu, saya akhirnya mengerti, bahwa dibutuhkan 'kerja ekstra' untuk dapat membuat deretan kata sebagaimana ciri khas mereka menuliskannya. Iy44 gaKk sYiicH... *kalimat terakhir membutuhkan waktu lama untuk membuatnya. Yah, menjadi alay ternyata butuh pengorbanan :p

Maka pada akhirnya, rasa bahasa kembali kepada individu masing-masing. Dan kita yang hidup berdampingan dengan manusia lain, dengan kebutuhan komunikasi lewat tulisan yang semakin meningkat seiring dengan berkembangnya teknologi, agaknya memang memerlukan toleransi ekstra terhadap manusia lain, agar dapat tetap dapat saling memahami, dan menerima pesan dengan lebih baik, tanpa ada kesalahan persepsi yang berarti. Semoga yah...

Senin, 20 Februari 2012

Telah Terbit, Jeda Sejenak!


ISBN: 978-602-225-238-2

Terbit: Januari 2012

Tebal: 164 halaman

Harga: Rp. 37.000,00

Deskripsi:

Jeda Sejenak adalah kumpulan tulisan renungan tentang bagaimana melewati hidup dengan lebih berarti. Terkadang, karena derap waktu yang begitu cepat, tanpa sadar kita melewati berbagai macam peristiwa yang sejatinya sarat akan makna. Tulisan ini hadir sebagai ajakan untuk berhenti sesaat dari berbagai aktifitas kita, untuk tafakur dan merenungi tentang nikmat Allah yang begitu banyak, tentang eksistensi kita sebagai khalifah di muka bumi, juga tentang kematian yang pasti datangnya, namun begitu sering kita lupa. Teori-teori yang melekat di antara tiap untai kalimatnya dan pada bait-bait sajaknya mungkin telah kita hafalkan di luar kepala. Namun, agaknya kita selalu butuh waktu untuk dapat memahaminya, bukan hanya dengan akal, tapi juga dengan hati. Agar lebih mudah mengejawantahkannya dalam bentuk amal nyata. Dalam derap langkah penuh kesyukuran, kepada cinta kita untuk kebenaran, dan dalam perjalanan pulang ke negeri akhirat, seharusnya kita selalu mengambil rehat untuk jeda sejenak.


Cara Mendapatkan Buku JEDA SEJENAK

1. Belanja Online melalui Situs Leutika Prio
- Bagi yang tinggal di daerah Yogyakarta dan sekitarnya *hemat ongkos kirim
- Register dulu di http://​www.leutikaprio.com/daftar
- Klik beli di sini lalu akan tampil total biaya yang harus dikeluarkan
- Masukkan verifikasi kode kemudian klik check out
- Selanjutnya cek email, transfer uang ke bank dan lakukan konfirmasi pembayaran
- Pesanan buku insyaAllah akan diantarkan ke alamatmu :D

2. Belanja Online melalui Penulisnya Langsung
- Khusus untuk daerah Makassar dan sekitarnya (untuk wilayah luar Makassar juga boleh, tapi jangan lupa ongkinya yah.. :p, dananya bisa dikirim via rekening)
- Kirim nama dan alamat lengkap melalui email ke diena_rifaah@yahoo.com atau via inbox FB: Diena Rifaah, no rekening akan diinfokan ke kamu setelah konfirmasi pembelian ini (untuk luar Makassar).
- Buku akan diantarkan kepada kamu :D
Selamat membaca, semoga bermanfaat :D :D :D

Minggu, 19 Februari 2012

[DibalikLembar] Jeda Sejenak!

Maka menulislah; agar jutaan pembaca menjadi guru yang meluruskan kebengkokan, mengingatkan keterluputan, membetulkan kekeliruan (Salim. A. Fillah)

Akhirnya penantian itu berakhir juga. Setelah tiga pekan lamanya menanti datangnya sang buku perdana, hari ini dia muncul dengan ‘kemunculan-hening’. Ya, saat saya dengan santainya berjalan menuju pintu keluar, hendak ke kampus, adik saya muncul dan berkata dengan gerak mulut tanpa suara; “Bukumu sudah datang…”. Ya, berbeda betul dengan grasa-grusu yang begitu anarkis yang sempat terjadi beberapa kali saat saya sayup-sayup mendengar suara motor berhenti di depan rumah yang saya pikir adalah pak pos yang datang membawa pesanan Jeda Sejenak dari penerbitnya, Leutikaprio di Jogja.

Baiklah.

Berbicara tentang jejak pena, maka Jeda Sejenak sebenarnya telah dimulai penggarapannya sejak bertahun lalu. Tulisan paling ‘tua’ saya kira adalah puisi ‘Bukan Langit yang Biru’, yang kalau tidak salah saya buat di masa SMA, dalam perjalanan pulang sekolah di atas becak. Sedangkan tulisan paling bungsu adalah esai ‘Nanti akan Ada Waktunya’ yang saya buat di bulan September tahun lalu. Kesemua tulisan itu awalnya bukan dimaksudkan untuk menjadi sebuah buku. Mereka (tulisan-tulisan itu) adalah penghuni blog yang saya buat sejak kelas dua SMA lampau. Namun, atas saran beberapa orang kawan, saya akhirnya memutuskan untuk menggarap ulang mereka, dan menjadikannya sebagai sebuah kesatuan buku berjudul Jeda Sejenak.

Buku Jeda Sejenak ini saya susun bersamaan dengan masa penyelesaian skripsi. Sebenarnya, proyek ini menjadi semacam refreshing saya ditengah carut marut skripsi dan birokrasi dalam menuntaskan masa kuliah S1. Awalnya, saya berencana ingin mengerjakannya secara fokus. Saya pikir, memilah dan memilih dari sekian banyak tulisan untuk dipilih yang (saya anggap) terbaik dan layak untuk dibukukan, kemudian mengeditnya (dan menemukan betapa banyak kesalahan menulis yang saya lakukan dimasa lalu), lalu mengelompokkannya menjadi tiga bagian besar, kemudian menyusunnya menjadi satu rangkaian yang enak dibaca, mengirim ke penerbit, merancang deskripsi cover,mencari orang-orang yang sudi untuk memberikan endorsement, dan menuntaskan administrasi, adalah sebuah pekerjaan besar yang tidak bisa saya lakukan sambil nyambi-nyambi dengan pekerjaan lain. Apalagi sambil mengerjakan penelitian dan skripsi!

Saya yang (sejujurnya) agak ogah-ogahan mengerjakan skripsi pun akhirnya membuat sebuah keputusan untuk meletakkan diri saya pada posisi terjepit. Ya, saya harus segera menerbitkan buku ini. Tapi, saya juga harus mengerjar target selesai kuliah. Makanya, saya kemudian menargetkan; baru boleh menyentuh proyek buku jika skripsi telah rampung dan sidang istbat, eh..maksudnya ujian sidang saya kelar. Hal ini (ceritanya) untuk memotivasi saya agar bisa cepat selesai kuliah dan juga cepat menyelesaikan proyek buku ini.

Namun ternyata, saya tidak bisa menunggu.

Ya, saya terus-menerus melirik proyek buku ini ditengah pantulan skripsi. Hingga kemudian saya memutuskan untuk mengeksekusi keduanya dalam waktu bersamaan. Maka jadilah, penyusunan buku ini saya jadikan refreshing ditengah tugas akademik tersebut.

Akhirnya, naskah buku saya siap sebelum naskah skripsi saya rampung untuk disidangkan. Pada hari keduapuluhsatu di bulan November, saya mengirimkan naskah Jeda Sejenak ke Leutikaprio untuk diproses.


Buku ini menjadi terbagi pada tiga bagian besar.

Di Jeda Pertama, saya menamainya dengan Derap Langkah Kesyukuran, pada bagian ini, saya membahas tentang bagaimana mensyukuri hidup. Saya percaya, dalam setiap syukur, ada kesabaran, maka semoga untai tulisan yang dibuka dengan puisi ‘Perjalanan’ dan ditutup dengan ‘Menunggu; Menjaga’ itu bisa menginspirasi kita untuk selalu memberi ruang pada diri agar bisa menggandeng syukur atas segala macam nikmat yang mungkin kadang kita anggap sepele. Betapa pengejawantahan rasa syukur itu sendiri sebenarnya merupakan sesuatu yang sangat kompleks dan sama sekali tidak sepele. Di bagian ini, secara personal saya menuliskan pula kisah tentang nostalgia di masa SD, untuk guru-guru saya, kawan-kawan saya, dan semua orang yang ada di masa menyenangkan itu. J

Di Jeda Kedua, saya memberinya judul bab Ada Cinta untuk Dakwah. Bagian ini menguraikan jejak-jejak perjalanan di jalan cahaya. Tentang kisah para Nabi, tentang kepedulian kita pada pelestina, tentang eksistensi kita sebagai khalifah. Awalnya, ada kekhawatiran sendiri untuk mengguna kata ‘dakwah’ dalam judul bab. Namun akhirnya saya sadar, bahwa masing-masing kita agaknya tidak boleh lagi mengkhususkan dakwah kepada anak pesantren atau para kiai saja. Sebab dakwah adalah tugas kita semua. Dan menyampaikan kebenaran sekecil dan sesederhana apapun itu, sesungguhnya adalah cara untuk masuk ke dalam jalan sepi tersebut. Jalan dakwah. Dan jalan dakwah tidak akan pernah berpisah dari indahnya ukhuwah. Maka pada bagian ini, saya menuliskan kenangan pada masa SMA dengan keasyikan rohis, juga masa-masa menjadi pengurus dalam sebuah forum yang kembali bersinggungan dengan dakwah sekolah. Juga tentang para akhwat yang membersamai saya di sana. J

Di Jeda Ketiga, saya menyebutnya Dalam Perjalanan Pulang. Bagian terakhir ini, mengeksplorasi issue tentang kematian, semoga bukan dengan cara yang mengerikan. Bagi saya, kematian adalah sebuah nasihat yang sangat nyata. Saya pernah melewati masa-masa dimana saya merasa sangat dekat dengan kematian, suatu waktu saya dihadapkan dengan vonis kematian saya sendiri, di kesempatan yang lain saya menyaksikan orang-orang terdekat yang pergi untuk selamanya. Itu semua, saya rasa sangat sia-sia tanpa saya bagikan dalam buku ini. Sebab mengingat mati sebenarnya akan mengingatkan kita tentang bagaimana hidup dengan lebih berarti. Suatu puisi saya buat di masa awal perkuliahan di Farmasi Unhas yang saya rasa sangat berat. Puisi berjudul ‘Suatu Saat’ itu saya persembahkan untuk teman-teman seperjuangan, Mixtura’07. Betapa sebenarnya saya saat itu sangat khawatir, takut bahwa nyawa saya akan dicabut dalam keadaan menulis laporan saking seringnya melakukan pekerjaan tersebut. Namun, akhirnya semua terlewati dengan caranya masing-masing. J

Karena tulisan-tulisan ini awalnya adalah untuk keperluan blogging, maka awalnya saya sempat tidak pede untuk membukukannya. Saya menganggap catatan ini sebagai sesuatu yang terlalu personal dan tidak layak untuk dikonsumsi publik. Namun, oleh Haniyah, saya kembali diingatkan bahwa banyak hal yang terjadi dalam hidup kita yang kadang juga dialami oleh banyak orang. Dan membagikan pengalaman pribadi tidak selalu berarti terlalu mengekspos diri. Hanya saja, di setiap cerita memang harusnya selalu ada manfaat yang bisa diambil oleh pembacanya. Maka, saya kembali bangkit.

Kekhawatiran berikutnya timbul saat saya kemudian sadar bahwa tulisan blog ini sebenarnya bisa saja dibaca oleh orang-orang dengan gratis, maka mengapa harus membuat buku berbayar untuk mengumpulkannya? Kegalauan itu kemudian saya sampaikan pada Kak Ai (Sari Yulianti) yang saya akrabi lewat blog di Multiply. Beliau juga telah lebih dulu menulis buku ‘Surga di Bawah Telapak Kaki Ayah’ yang juga diangkat dari blognya. Oleh Kak Ai saya mendapat nasihat, bahwa tidak semua orang dapat mengakses internet, maka dengan membukukannya, kita sedang mempermudah orang lain untuk memperoleh ‘nilai’ dari buku itu. Dan nilai tersebut memang agak sulit untuk dinominalkan dalam rupiah. Dan hal ini kemudian saya sadari saat saya mendapati tatap mata penuh antusias dari ibu penjaja nasi kuning di mushalla. Ia menatap buku saya dan membacanya dengan semangat. Ah.. Kak Ai memang benar.

Sejak bergabung dalam keredaksian sebuah majalah, saya seringkali dihinggapi rasa takut. Saya takut kepada orang-orang yang telah merelakan hartanya demi membeli majalah kami; saya takut ia tidak mendapatkan sesuatu yang lebih baik daripada uang yang sudah ia ‘korbankan’ itu. Rasa takut ini terang saja lebih hebat saat saya menjual buku saya sendiri. Dengan harga yang berkali lipat dari majalah tadi, saya sesungguhnya selalu khawatir bahwa nilai itu terlalu ‘mahal’ untuk tulisan-tulisan sederhana yang saya buat itu.

Namun, saya tahu. Saya hanya sedang berusaha. Saya sedang mencoba untuk meninggalkan jejak di muka bumi ini, agar kelak yang tersisa dari saya bukan hanya sekadar beberapa kata di batu nisan. Tapi begitu banyak kata yang saya sumbang lewat karya berupa buku. Saya sedang berusaha mewariskan nilai, meski mungkin sangat sedikit, meski mungkin terlihat kecil dan sepele saja, namun setidaknya saya berusaha. Dengan segala kerendahan hati, saya mempersembahkan karya ini. Bukan agar orang lain memandang saya lebih dari siapapun. Demi Allah, bukan! Aih, terlalu banyak aib saya yang Allah tutupi sehingga saya masih bisa berjalan di muka bumi dengan kepala tegap!

Karya ini adalah sebuah tugas hidup. Saya kini sedang menyerahkannya kepada kalian; para guru yang telah sudi memesan buku ini dan mengeluarkan uang untuk mendapatkannya. Kepada kalian, saya begitu berterima kasih dan berharap ada koreksi, ada teguran, kritik, dan masukan, atas tugas yang sedang saya kumpulkan. Nilailah! Dan saya bahkan sudah pernah mendapati tulisan saya dirobek di depan mata saya sendiri, maka untuk kritik yang paling pedas sekalipun; insya Allah saya siap.

Saya sering ‘disoroti’ karena dianggap terlalu sering ngalor ngidul di dunia maya. Mungkin kesannya saya terlalu eksis; dengan nama asli pula! Maka; Iya, saya sadari bahwa memang terkadang aktifitas di dunia maya begitu melenakan. Tapi, sejujurnya saya mendapatkan banyak manfaat darinya. Buku ini pun, menemukan jalannya di dunia maya. Saya pun, mendapatkan banyak kawan sehobi, bahkan bisa berakrab ria dengan penulis yang di masa lampau hanya bisa saya baca karyanya. Maka berselancar di dunia maya dengan identitas blak-blakan ini pun saya lakukan agar saya bisa istiqamah. Agar saya bisa tersorot dengan jelas, sehingga banyak yang bisa mengingatkan saat saya tidak berada pada jalur yang sebenarnya. Saat seseorang bisa menghantam kesadaran saya saya ia berujar; jangan lemah, ini bukan kamu yang saya kenal dengan tulisan-tulisan itu!

Maka sungguh, tidak ada satu pun yang saya harapkan kecuali bahwa Jeda Sejenak ini bisa membawa manfaat bagi saya dan kamu, yang sudi membacanya. Semoga menjadi amal kebaikan bagi masing-masing kita. Semoga kita peroleh hidayah dan menuju kampung akhirat dengan kesudahan yang indah. Aamiin…