Minggu, 04 Mei 2014

Perjuangan Hidup dari Negeri Beton



Judul            : Promise, Love, and Life

Penulis         : Nyi Penengah Dewanti

Penerbit        : Quanta

Terbit            : 2013

Tebal             : 176 halaman

ISBN             : 978-602-0220-35-2



Di sebuah malam Jum’at pada bulan Mei 2013, seorang gadis memulai satu fase penting dalam perjalanan hidupnya. Ia disapa Dewi. Hari itu, Dewi memutuskan untuk meninggalkan kampung halamannya dan mengejar mimpi-mimpinya. Sederhana saja, ia hanya ingin hidup layak dan memegang kendali atas dirinya sendiri, ia ingin membahagiakan ibunya –wanita yang sangat ia cintai, ia ingin membangun sebuah rumah yang dapat mereka tinggali dengan aman dan nyaman, tanpa perlu diteror oleh pembayaran sewa bulanan lagi. Demi semua itu, Dewi siap untuk menjadi seorang tenaga kerja wanita, di sebuah negeri yang belum pernah ia sambangi sebelumnya. Negeri beton; Hongkong.

Dunia TKW adalah sebuah ranah yang hingga hari ini masih memancing berbagai persepsi. Tak jarang kita mendengar berita tentang TKW yang bermasalah di luar negeri. Namun, di antara itu, ada pula cerita tentang para pahlawan devisa yang benar-benar berhasil merampungkan tugasnya dengan sangat baik. Selama ini, mungkin kita hanya mendengar kabar-kabar tersebut dari media massa yang ditulis oleh para wartawan. Nah, buku Promise, Love, and Live ini menyuguhkan pada kita suara hati yang datang langsung dari sumbernya sendiri, bukan fiksi, apalagi imajinasi. Nyi Penengah Dewanti menceritakan kisah pahit-manisnya berjuang sebagai seorang TKW; setiap perasaan, pengalaman, rasa bahagia, menegangkan, kesedihan, semuanya tumpah ruah dalam memoar yang diselingi dengan puisi-puisi yang cantik ini.

Dimulai dengan ketibaannya di Jakarta pada sebuah asrama milik agency yang akan mengurus tetek bengek persiapannya sebagai seorang TKW. Mulai dari langkah awal ini saja, kesabaran Dewi sudah harus ditempa dengan sengitnya aura persaingan antar calon TKW di asrama, belum lagi dengan kerinduannya pada ibu dan kampung halamannya. Hingga akhirnya Dewi menginjakkan kaki di Hongkong setelah penantian di tanah air, dan kembali lagi masuk asrama sebelum akhirnya ditempatkan pada majikan yang akan mempekerjakannya.

Dari satu majikan ke majikan yang lain, Dewi mengumpulkan berbagai macam pengalaman hidup. Ia harus bekerja keras, bahkan hingga seperti robot dengan jam istirahat yang begitu minim serta upaya yang ekstra bahkan hanya untuk mengerjakan kewajibannya sebagai seorang muslimah; shalat dan berpuasa.  Semua perintah majikan dilakoninya. Mulai dari menyiapkan makanan, membereskan rumah yang begitu besar, mengajak jalan-jalan bahkan hingga membersihkan kotoran anjing majikannya, sampai menunggui mobil yang sementara di parkir dalam cuaca yang tidak bersahabat. Lelahkah? Tentu saja. Namun hidup bagi Dewi adalah sebuah perjuangan panjang yang harus ia lakoni di usia yang masih sangat belia.

Aku hanya mampu menangkap, kebahagiaan ternyata harus dibarengi dengan cobaan yang menyakitkan.” (Hal.21)
Tidak cukup dengan seabrek pekerjaan yang begitu menyita tenaga itu. Kehidupan sebagai seorang buruh migran juga mengharuskannya memiliki mental baja, psikis yang tidak boleh kalah kuat dari fisiknya. Ia menghadapi berbagai macam model majikan, sebenarnya ia sempat pula menemukan majikannya yang cukup baik. Tapi, tidak jarang diantara majikannya yang begitu beringas, memotong gajinya seenaknya, dan senang mengucapkan kata-kata kasar padanya, baik tuannya, maupun sang nyonya. Belum lagi jika di rumah tempatnya bekerja ada anggota keluarga lain yang juga tidak jarang bersikap buruk padanya. Begitu pula dengan anak majikan yang sering bertingkah nakal, menjengkelkan, dan menguras tenaga lahir dan batin.

Dewi pernah nyaris pingsan karena harus bekerja tanpa makan sejak pagi. Ia diikutkan ke berbagai tempat oleh majikannya dan hanya diberi setengah potong roti yang setengah bagian lainnya diberikan kepada anjing mereka, potongan roti yang tak pernah ingin Dewi nikmati. Bahkan ia pernah nyaris ditikam dengan pisau oleh majikan kecilnya yang teramat nakal, namun belakangan menjadi begitu dekat dan bersedih ketika Dewi harus pindah ke tempat kerja yang lain.

Segala perjuangan dan kerja keras Dewi mendapatkan ‘pengakuan’ pada saat di tahun 2006 ia sempat kembali ke Indonesia dan terpilih menjadi trainer untuk TKW baru di asrama tempat para TKW dipersiapkan. Pada kesempatan itu pula, oleh Budi Hardisurjo, pemilik bisnis PJTKI tempat Dewi bernaung, ia dipertemukan dengan mantan menteri pendidikan, Wardiman Djoyodiningrat.

Memoar yang ditulis dengan gaya bertutur yang lincah ini juga terkadang akan membawa kita untuk flashback ke masa lalu Dewi. Dari sanalah kita akan menemukan sebuah kisah yang juga akan kembali mengajarkan kita arti perjuangan seorang anak dalam menghadapi kondisi keluarganya. Dewi bersama ibu dan saudara-saudaranya harus menerima saat ternyata mereka ditinggalkan oleh ayahnya. Sang ayah pergi bersama perempuan lain yang ia kenal saat ia pergi mencari nafkah. Belakangan, ia kerap kali tetap muncul dalam kehidupan Dewi. Sayangnya, lelaki itu justru datang dengan membawa masalah; hutang-hutang yang harus dilunasi, meminjam uang untuk keperluan yang entah, bahkan sejumlah jaminan untuk menghindarkannya dari bui penjara. Dan, semua beban itu harus ditanggung oleh Dewi yang menjadi tulang punggung keluarga mereka. Bayangkanlah seorang anak perempuan yang menyaksikan lelaki yang seharusnya menjadi tempatnya bersandar, justru meletakkan beban berat pada pundaknya, bersama dengan kesalahan yang begitu sulit untuk dimaafkan, serta membuatnya merasakan makna kehilangan untuk pertama kalinya.  Namun nyatanya, lagi-lagi buku ini mengajarkan kita bahwa kesalahan hadir untuk mengajarkan arti memaafkan. Seperti bagaimana Dewi akhirnya berdamai dengan takdir, dan berfokus pada ikhtiar untuk memperbaiki nasib keluarganya, meski harus dengan bekerja keras.

Tak seharusnya aku menyalahkan Bapak yang meninggalkan kami. Mungkin, Bapak belum siap menafkahi kami yang semakin besar, semakin membutuhkan biaya banyak.” (Hal. 30)

Tapi, kehidupan sebagai seorang buruh migran tidak membuatnya berhenti untuk mengembangkan dirinya. Di tengah segala kerepotannya menghadapi pekerjaan yang seolah tak ada habisnya, lewat kecanggihan teknologi, Dewi menemukan sebuah dunia lain yang begitu menarik perhatiannya; menulis. Jangan bayangkan seorang gadis yang menikmati hobi menulisnya dengan tenang dan damai serta fasilitas yang lengkap. Dewi tentu jauh dari itu. Ia bahkan harus kucing-kucingan saat terpaksa harus menggunakan komputer majikannya saat akan menyelesaikan naskah yang ingin ia ikutkan lomba atau ia kirimkan ke media. Ia rela jari-jarinya kaku saat mengetik kata-kata dengan ponselnya, atau saat ia harus meminta bantuan dari seorang kawannya yang bekerja sebagai operator warnet.  Dan, semua kerja keras Dewi berbuah; tulisannya dimuat di berbagai media massa Hongkong berbahasa Indonesia, serta memenangkan berbagai lomba, meski di awal ia harus bersabar dengan kekalahan. Bahkan, naskah memoarnya lolos pada sebuah penerbit di tanah air sejak ia masih berstatus sebagai TKW di negeri seberang.

Kisah perjalanan hidup Nyi Penengah Dewanti masih terus berlanjut. Namun, ia telah melewati satu bagian dari kehidupannya yang menyimpan begitu banyak pelajaran bagi siapapun yang ingin memaknai kerja keras, keberanian, kesabaran, kelapangan hati, dan semangat pantang menyerah. Dewi telah berhasil meraih mimpinya pada Desember 2011 saat ia menempatkan keluarganya di sebuah rumah sederhana milik mereka sendiri. Ia juga kembali ke tanah air dan menjalani hari-harinya dengan terus berkarya. Hingga kini, tidak kurang dari 100 antologi bersama telah ia hasilkan, serta tulisan-tulisan di media cetak Hongkong dan Indonesia. Ia pun menjadi editor naskah di Kinomedia Writer Academy sambil melanjutkan pendidikannya.

Aku tak sendirian/ Ada Tuhan, ada Allah pemilik semesta/ Apakah aku sendirian?/ Bukan, kau bersama doa-doa/ Doa-doamu menaungimu/ Memelukmu dari sedih yang membuatmu murung. (Hal. 161)

Buku Promise, Love, and Life adalah sebuah memoar sederhana, namun berisi nilai-nilai kehidupan yang patut untuk direnungkan oleh siapa saja. Dengan kemampuan menulis yang tidak perlu diragukan lagi, kisah kehidupan Nyi Penengah Dewanti ini sebenarnya dapat dikemas dengan lebih apik jika disajikan dalam bentuk novel based on true story dengan dialog-dialog yang hidup serta deskripsi yang lebih kuat, serta penuturan yang lebih runut dan plot yang tertata. Namun terlepas dari itu semua, buku ini sangat patut untuk kita menjadi salah satu anggota di rak buku Anda!

*Resensi ini diikutsertakan dalam lomba resensi buku BAW dan QuantaBooks

Mengendalikan Habits, Mengendalikan Hidup





Kesan pertama tentang buku ini; covernya bagus! Ya, sederhana tapi keren. Begitu membuka halamannya secara random, saya kembali merasa bahwa mata saya dimanjakan oleh buku ini. Ilustrasi selalu nampak di setiap halamannya, dengan pemilihan font dan tataletak yang nyaman dibaca juga sekaligus menarik secara visual.

Baiklah, sekarang kita akan masuk ke pembahasan isi bukunya. Buku yang ditulis oleh seorang ustadz muda fenomenal, Felix Y. Siauw ini membawa semangat fastabiqul khairat yang kental. Intinya, pemaparan dalam buku ini menggiring kita untuk memerhatikan lebih dalam perihal ‘habit’, sebuah kata yang menjadi pembahasan utama.

Habit alias kebiasaan merupakan hal yang sangat penting untuk diperhatikan. Sebab, ia bisa sangat menentukan pencapaian hidup seseorang. Habit bisa jadi dalam bentuk hal positif, bisa pula merupakan hal yang negatif. Habit bisa kita atur, namun ada kemungkinan pula ia yang akan mengatur kita.

Pada intinnya, buku ini menggiring kita untuk mengusahakan dan memiliki keinginan yang kuat untuk membentuk habit yang positif. Di back-covernya dijelaskan bahwa buku ini secara khusus diperuntukkan untuk pengemban dakwah, maka contoh-contoh konkret tentang itu memang diarahkan ke sana. Habit terlahir dari sepasang ayah dan bunda yang disebut sebagai practice dan repetition. Kedua hal inilah yang bisa menjadi sebab seseorang memiliki kebiasaan untuk melakukan sesuatu, yang kemudian menyebabkan ia mampu melakukan hal itu, untuk selanjutnya menjadi ahli di bidang tersebut. Ya, menjadi ahli bisa memungkinkan terjadi dengan adanya proses paksaan kepada diri sendiri, tanpa harus memiliki bakat, dan sangat bergantung pada keinginan yang kuat.

Buku yang pada Maret 2014 telah memasuki cetakan keenam ini mengarahkan keahlian yang terbentuk dari habit itu untuk membentuk para pendobrak yang mengenyahkan ketidakmungkinan dan akan dikenang oleh sejarah, terkhusus dalam dakwah, yang dalam buku ini disebut sebagai outliner. Selain pemaparan ‘teori habit’, buku ini juga memuat contoh-contoh kisah dari para tokoh, baik dari masa lampau maupun masa kini, serta dari dunia Islam maupun secara umum. Tak jarang pula penulis memberikan analogi-analogi sebagai teras untuk memasuki pintu-pintu penjelasannya.

Dari segi bertutur, menyeksamai tulisan Felix Y. Siauw tidak berbeda dengan mendengarkannya menyampaikan gagasan secara lisan. Jangan berharap menemukan kata-kata yang mendayu-dayu, bersayap, atau puitis. Penulis yang menyebut dirinya ‘Islamic Inspirator’ ini bertutur dengan gaya yang tegas, lugas, dan kadang jenaka –yang lebih bersifat menohok, sebenarnya. Hehehe...

Beberapa typo masih nampak dan sebaiknya lebih diperhatikan lagi pada cetakan berikutnya. Selain itu, kebiasaan saya untuk mengecek daftar isi pada saat awal memulai melahap buku, ternyata tidak bisa dipenuhi oleh buku ini.

Akhirnya, How to Master Your Habits ini adalah satu karya yang sangat patut untuk dimiliki oleh mereka yang ingin memulai belajar untuk hidup dengan positif. Terlebih untuk para pejuang dakwah Islam yang sudah seharusnya memaksimalkan dirinya dalam membagikan cahaya kebenaran.

"Anytime you see more successful than you are, they are doing something you aren't" (Malcolm X)- pg. 96

"Easy come easy go, everything that came with an instant will gone in an instant, there's no such things as ujug-ujug" -pg. 106

"impossible is a sum of possibilities, if we are willing to do the possibilities, then impossible is nothing"- pg.128

"Saya pernah menyaksikan seorang tunanetra yang berdakwah di jalan Islam, menyampaikan cahaya yang belum pernah disaksikan matanya" -pg.168

Kamis, 27 Februari 2014

Saat Cinta Sejati Menemukan Jalannya


Judul          : Takbir Rindu di Istanbul
Penulis       : Pujia Achmad
Penerbit     : Puspa Populer, Grup Puspa Swara
Terbit         : Cetakan 1, 2013
ISBN          : 9786028290937
Cover          : Soft Cover
Tebal           : 324 hal.
Harga          : Rp. 55.000,-



 Cinta sejati akan menemukan jalannya sendiri.

Mungkin sebaris kalimat di atas cukup tepat untuk menggambarkan novel besutan Pujia Achmad, Takbir Rindu di Istanbul. Novel dengan nuansa Islam yang sangat kental ini mengisahkan tentang sosok Zaida, seorang gadis yang cantik dan berakhlak baik. Cerita ini diawali dengan pertemuannya dengan seorang kawan lamanya yang bernama Ilham. Ada perasaan di masa lalu yang kembali terkuak oleh perjumpaan tanpa sengaja itu. Perasaan yang sebenarnya beraroma sama yang dipendam oleh kedua aktivis dakwah tersebut. Maka perjumpaan itu menjadi gerbang yang mengantarkan langkah Ilham untuk meminang Zaida. Gadis ini bahkan nyaris mengubur mimpinya untuk melanjutkan sekolah ke Belanda meski permohonan beasiswa yang ia ajukan sudah berhasil ia dapatkan. 
 
Tapi takdir berkata lain. Pembaca akan dibawa pada pergolakan batin Zaida saat akhirnya ia justru mundur dan memutuskan untuk menolak pinangan Ilham, lelaki yang sebenarnya ia harapkan dapat menjadi imamnya seumur hidup. Fakta bahwa Zaida bukanlah seorang penghapal al Qur’an seperti calon yang diajukan orang tua Ilham membuatnya bukan kehilangan kesempatan untuk menjadi pendamping Ilham, tapi juga kehilangan kepercayaan dirinya sebagai seorang wanita. Rasa mindernya itu lalu ia jadikan sebagai pelecut semangat untuk memulai berikhtiar agar bisa menjadi seorang hafidzah. Namun, mimpinya itu menjadi kandas setelah terjadinya sebuah ‘insiden’ yang membuyarkan konsentrasinya di pesantren tempat ia belajar untuk menghapalkan al Qur’an.

Cerita kemudian bergulir hingga akhirnya Zaida menapakkan kaki di bumi Belanda. Zaida yang kemudian memutuskan untuk melanjutkan kuliah S2 di Rotterdam sambil tetap berusaha menghapalkan al Qur’an kembali akan menghadapi berbagai macam konflik batin di negeri orang tersebut. Di Rotterdam, Zaida pun menemukan cintanya, seorang pemuda shalih bernama Salman yang sanggup mengalihkan dunianya dari sosok Ilham yang juga telah menikah. Namun, bukan kisah cinta namanya jika ia tidak diuji. Ujian itu datang dengan kemunculan Marijne, wanita Belanda yang jatuh hati pada Salman. Cerita ini pun semakin seru saat ternyata kisah cinta masa lalu antara Ilham dan Zaida masih menyisakan bekas-bekas yang menyeruak dengan tiba-tiba tepat saat mereka kembali dipertemukan di kota Istanbul.

Kepada siapakah cinta sejati Zaida yang sebenarnya? Bagaimana ia menata hatinya saat rumah tangganya dilanda ancaman keretakan sementara lelaki dari masa lalunya ditakdirkan berjumpa dengannya? Dan bagaimanakah kisah ini ditutup saat ternyata tidak semua yang direncanakan oleh setiap tokohnya dapat terjadi sesuai dengan yang mereka inginkan?

Temukanlah jawabannya dalam novel setebal 320 halaman ini. Cerita di dalamnya akan membawa kita ikut menyeksamai keindahan Rotterdam yang digambarkan dengan apik dan jauh dari kesan ‘tempelan’. Hal ini sangat wajar, sebab penulisnya pun memang pernah menempuh pendidikan di kota tersebut. Kita juga akan diantarkan pada suasana kota Istanbul di Turki yang memesona, meski masih perlu untuk dieksplorasi lebih dalam lagi. Aroma Islami yang kental juga sangat terasa dari kehidupan para tokohnya, baik yang berupa simbol-simbol yang dekat dengan dunia aktivis Islam, pun dengan nilai-nilai Islam yang tersirat dengan halus dan jauh dari kesan menggurui. 

Beberapa konflik-konflik pendukung yang juga turut dihadirkan oleh penulis di novel ini menjadi semacam simpul-simpul kecil yang akan menghubungkan satu bagian dengan bagiannya yang lain. Kehati-hatian dalam merangkai cerita-cerita tersebut tentu perlu untuk diperhatikan agar tertuturkan dengan logis untuk menghindari kesan terlalu-kebetulan yang akan membuat pembaca akan mengernyitkan kening. Sosok tokoh-tokohnya juga digambarkan begitu manusiawi dan tidak terlalu ‘bernuansa-langit’, Zaida misalnya, bukan hanya digambarkan sebagai sosok yang shalihah, cantik, dan cerdas. Namun di beberapa titik ia pun tidak luput dari rasa kecewa, kecurigaan, bahkan rasa putus asa. Hal ini membuat kita tidak hanya akan melulu terkagum-kagum, tapi juga akan ikut geregetan saat membersamai kisah ini. 
Tapi bagaimanapun, tetap terdapat beberapa hal yang perlu diperhatikan terutama dalam hal kesalahan pengetikan. Pada halaman 82, terdapat kesalahan pengetikan nama Salman menjadi Salam, tentu yang ini masih tidak begitu mengganggu. Namun, di halaman sebelumnya, kesalahan terjadi dengan cukup fatal pada paragraf kelima di halaman 81;

Jumlah laki-laki lebih banyak daripada wanita. Ia akan memilih wanita lain kalau kamu tidak mau merespon. Mau bukti?

Dengan melihat deretan kalimat di atas kita tentu akan sadar bahwa terjadi kesalahan penempatan antara kata laki-laki dan wanita. Keduanya tertukar! Hal yang sama juga ditemui pada halaman 250;

Sementara itu, Salman dan Hamidah tak sadar kalau Zaida telah pergi dari rumahnya

Jika kita membaca cerita di part itu secara keseluruhan, kita tentu akan menemukan bahwa seharusnya bukan nama Salman yang terketik di sana, tapi nama Ilham, yang saat itu memang berada di adegan tersebut. Kesalahan teknis seperti ini semoga dapat direvisi pada cetakan-cetakan berikutnya.

Namun, terlepas dari kekurangan yang tentu tidak akan luput dari setiap karya, kehadiran novel ini patut untuk diapresiasi. Setidaknya, ditengah kondisi jaman dimana batas pergaulan antara lelaki dan perempuan yang semakin tidak terkendali, novel ini menawarkan gambaran bahwa konsep interaksi Islam adalah jalan yang selamat dan dapat menjaga kehormatan setiap manusia. Bahwa cinta yang hadir di hati belum tentu akan menjadi cinta sejati. Namun, keikhlasan dalam menjalani takdir dengan sebaik-baiknya cara, adalah satu jalan untuk menemukan kesejatian cinta. Anda tidak percaya? Ikuti saja kisahnya! 

Rabu, 27 November 2013

Jawaban di Puncak Mahameru




Judul buku          : Altitude 3676 Takhta Mahameru
Penulis                 : Azzura Dayana
ISBN                      : 978-602-8277-92-1
Penerbit              : Indiva
Ketebalan           : 416 hal
Ukuran                 : 14x20 cm
Harga buku         : Rp 62.000
 


Apa yang ada di pikiran seorang gadis sehingga rela menempuh rangkaian perjalanan panjang hanya bermodal foto-foto yang diterimanya lewat e-mail? Pertanyaan itulah yang menghantui pikiran saya sepanjang membaca buku ini. Altitude 3676 Takhta Mahameru ini ditulis dengan apik oleh Azzura Dayana dengan membawa pembaca ikut serta dalam petualangan Faras, seorang gadis lugu dari Ranu Pane di kaki gunung Semeru. Faras yang seorang tamatan SMA nyatanya bukanlah gadis desa biasa. Kegemarannya membaca buku membuatnya memiliki pemikiran yang maju dan terbuka. Ia menjadi gadis cerdas yang gemar menghapalkan larik-larik dari penyair favoritnya, Kahlil Gibran.

“Kahlil Gibran juga yang mengatakan ‘Berilah aku telinga maka aku akan memberimu suara.’ Itulah mengapa tadi kubilang, harusnya aku mendapatkan cerita, setelah kukatakan aku siap menyimak.” (Faras, hal. 93)

Gadis ini kemudian ditakdirkan berjumpa dengan seorang pemuda bernama Raja Ikhsan. Berbeda dengan Faras yang tipikal peramah dan supel, Ikhsan justru sebaliknya. Ia adalah lelaki yang tumbuh dengan menabung dendam kesumat di dadanya. Terlahir dari seorang wanita yang merupakan istri kedua, Ikhsan harus menerima kenyataan saat ternyata ayahnya justru kembali ke pelukan istri pertamanya. Tidak hanya sampai di situ, istri tua ayahnya itu terus meneror ibunya yang dianggap sebagai perusak rumah tangga mereka. Tidak heran jika kemudian pemuda ini memiliki sepuluh alasan untuk membunuh ayahnya sendiri, lelaki yang ia anggap menjadi penyebab segala penderitaan yang ia alami. Juga tentu saja membalas teror kepada istri ayahnya yang disinyalir telah menyebabkan ibunya bunuh diri.

Tidak cukup dengan dua tokoh yang bersebrangan kepribadian itu, penulis juga menampilkan Mareta, seorang gadis kaya yang hidup dengan segala modernitasnya. Pertemuannya yang tidak terduga di Borobudur dengan Faras justru mengantarkan keduanya menjadi rekan seperjalanan hingga tiba di Bira, sebuah daerah di Sulawesi Selatan. Mareta,  cewek metropolitan itu tentu nampak bagai langit dan bumi dengan Faras yang berjilbab rapi dengan tutur kata yang terjaga.

Ketiga tokoh ini terlibat dalam rangkaian cerita yang disajikan dengan alur maju-mundur dan sudut pandang Faras, Mareta, dan Ikhsan secara bergantian. Tiga kepribadian berbeda yang ternyata terhubung pada satu benang merah. Tiga sudut pandang ini memberikan ruang kepada pembaca untuk lebih menyeksamai tiap karakter tokoh-tokoh tersebut, serta memandang setiap kejadian di dalam cerita lewat angel yang berbeda-beda. Hal ini membuat pembaca memiliki pengetahuan yang utuh tentang berbagai konflik di dalam novel ini.

Perjumpaan antara Ikhsan dan Faras yang hanya terjadi tiga kali saat Ikhsan hendak mendaki Semeru rupanya menjadi asal muasal dari cerita ini. Selanjutnya, hubungan yang aneh –kadang manis, namun bisa berubah menjadi dingin, antara Faras dan Ikhsan kemudian terus berlanjut lewat cara yang tidak kalah anehnya; e-mail satu arah dari Ikhsan yang berisi foto-foto tempat yang ia dikunjungi selepas perpisahannya dengan Faras di Ranu Pane. Atas dasar itulah, Faras menelusuri jejak Ikhsan hingga pergi ke Borobudur, menyebrang ke Pulau Sulawesi menuju Bira di Bulukumba, lalu kembali lagi ke kampung halamannya di kaki gunung Semeru.

Satu per satu kejadian yang melatarbelakangi cerita ini terkuak di setiap lembaran bukunya. Pembaca pun dikocok emosinya lewat ketegangan demi ketegangan saat mengikuti hidup Ikhsan yang keras dan penuh dengan rencana sadis. Pada satu titik mungkin pembaca pun akan ikut kebingungan pada kepribadian Ikhsan yang tiba-tiba berubah menjadi begitu peduli dan bijaksana pada sebuah keluarga di Bira yang menjadi sedemikian suram ketika kehilangan dua anak mereka. Anak gadis yang dibawa pergi oleh kekasihnya karena tidak direstui oleh keluarganya, dan yang lelaki mati muda saat mengejar pemuda yang membawa lari adik perempuannya itu. Tragedi itu berkaitan dengan aturan adat guna menjaga kehormatan keluarga mereka. Jika pembaca tidak jeli mengikuti ‘penjelasan dari penulis’ lewat flashback kejadian sebelum peristiwa tersebut, mungkin pembaca akan menilai adanya inkonsistensi dalam penggarapan karakter Ikhsan. Mengapa seolah-olah dengan mudahnya warna hati pemuda itu menjadi berubah?

Berbagai ketegangan dari kehidupan Ikhsan yang begitu semrawut akan tercairkan saat mengikuti tiap deskripsi setting yang dipaparkan dengan detail oleh sang penulis. Dalam hal ini, terasa betul betapa penulis sangat menguasai latar tempat yang ia gunakan. Keindahan Borobudur, eksotisnya Bira, kebudayaan dan sejarah suku Bugis yang gagah berani, bahkan tentang adat yang masih dipegang kokoh oleh sebagian masyarakatnya, serta keelokan pemandangan alam yang disuguhkan dalam pendakian menuju Puncak Mahameru. Penulis yang juga seorang backpacker dan gemar panjat gunung ini, juga menuturkan dengan apik tentang berbagai tetek bengek pendakian Semeru yang seru dan menegangkan. Selain itu, di beberapa bagian buku ini juga mengutip petikan syair nasyid dan lagu, serta sajak-sajak yang memesona dan menyimpan makna mendalam.

Menjadi air harus menjadi ricik. Sampai-sampai hujan yang kesekian kerap juga menemani perjalanan cinta kita. Hujan di langit itu. Hujan di matamu” Sajak Kecil tentang Cinta, Sapardi Djoko Damono. (Faras, hal. 113).

Layaknya ciri khas buku terbitan Indiva yang lain, buku ini juga tidak melulu hanya berupa rangkaian cerita tanpa makna. Idealisme dan nilai-nilai religius dan spiritual juga terasa kental di dalamnya.

“Kata apa lagi yang sanggup kami ungkapkan untuk memuji Allah,” tambah Faras dalam gumamnya. “Untuk semua kehebatan penciptaan ini. Padahal Mahameru baru satu bagian kecil saja dari seluruh ciptaanNya di semesta raya.” (Faras, hal 413)

Bahkan, hubungan antara Faras dan Ikhsan juga tidak dieksplorasi dari sudut romantika belaka, namun lebih kepada tanggung jawab antar sesama muslim untuk saling menasihatkan kepada kebaikan. Namun, hal ini bisa saja justru menjadi sebuah bumerang, saat pembaca akhirnya bertanya-tanya, bagaimana sebenarnya perasaan antara Faras dan Ikhsan? 

 
Ya, tak ada gading yang tak retak. Setidaknya, saya menemukan sebuah kejanggalan dalam novel bercover pemandangan ‘negeri awan’ dari atas gunung ini. 

Iya, saking sayangnya aku padanya, sampai aku ingin kubunuh suaminya.” (Ikhsan, hal.115). Kalimat ini tentu lebih enak dibaca jika kata ‘aku’ yang kedua dihilangkan. Semoga ini hanya kesalahan pengetikan belaka.


 Lalu, apa sebenarnya hubungan Mareta dengan Ikhsan? Dan mengapa Faras tidak kunjung menemukan Ikhsan meski telah mengikuti petunjuk foto dalam e-mail yang ia terima? Apa yang hendak disampaikan gadis itu hingga rela menempuh perjalanan yang begitu jauh? Dan sanggupkah Ikhsan menanggalkan semua kebencian dan dendam yang ia pelihara?

Begitu jauh para tokoh ini melanglang buana. Namun, layaknya kehidupan, terkadang jawabannya justru ditemukan pada titik mula. Maka semua pertanyaan itu pun terkuak di Ranu Pane dan terjawab dengan tuntas di ketinggian 3676 meter di atas permukaan laut, di Puncak Mahameru.

Lewat Altitude 3676 Takhta Mahameru ini, Azzura Dayana berhasil mengusung nilai-nilai kehidupan yang dipaparkan dengan begitu halus dan cerdas, plus dengan gaya bertutur yang indah dan tidak menggurui. Karena itulah, novel ini tentu sangat layak untuk dibaca dan direnungi. Selamat!