Rabu, 19 November 2014

[Resensi Buku Islam] Bunga Rampai Rukun Islam



Rukun Islam merupakan perkara yang telah kita pelajari sejak sekolah dasar. Namun, berapa banyak diantara kita yang merasa penting untuk lebih mempelajarinya secara mendalam? Padahal, Rukun Islam sangat perlu untuk kita pahami dengan baik, sebab ia berkaitan langsung dengan ibadah-ibadah kita kepada Allah. 

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam pernah ditanya oleh Jibril Alaihissalam, “Wahai Muhammad, beritahukanlah kepadaku tentang Islam!”. Maka Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam pun menjawab, “Islam adalah Kau bersaksi bahwa tiada Ilah (sembahan) yang berhak diibadahi selain Allah, dan bahwa Muhammad adalah utusan Allah; mendirikan shalat, menunaikan zakat; puasa pada Bulan Ramadhan; dan melaksanakan haji bagi yang mampu menjalaninya” (HR. Muslim)

Nah, ibadah-ibadah yang terangkum dalam Rukun Islam ini tentunya harus dikerjakan dengan ikhlas dan ittiba’urrasul, yakni sesuai dengan yang telah dicontohkan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam. Sebab hal ini berkaitan erat dengan syarat diterimanya ibadah, maka sangat penting bagi kita untuk memastikan bahwa kita telah melaksanakannya berdasarkan dalil-dalil yang shahih, dan bukan hanya asal ikut-ikutan saja.

Untuk itulah, sepaket buku Bunga Rampai Rukun Islam hadir di tengah-tengah kita. Paket ini terdiri dari lima buah seri buku yang masing-masing bukunya membahas tuntas dan lengkap mengenai lima Rukun Islam, dimulai dari pembahasan tentang Syahadat, Shalat, Zakat, Puasa, hingga Haji. Kelima buku dengan ukuran 13,5 x 21 cm ini dikemas dalam sebuah box yang praktis dengan jumlah halaman mulai dari 210 hal hingga 283 hal. Cover tiap buku didesain secara eksklusif dengan layout isi yang memberikan kenyamanan saat pembaca menikmati untaian ilmu yang dipaparkan oleh para ulama yang kapabel di bidangnya masing-masing. 

Seri pertama dari Bunga Rampai Rukun Islam yang membahas Makna Dua Kalimat Syahadat disusun oleh ulama-ulama ternama, yaitu Dr. Abdullah bin Abdurrahman Al Jibrin, Dr.Shalih bin Fauzan bin Abdullah al-Fauzan, dan Abdul Aziz bin Abdullah bin Baaz. Kolaborasi ini tentunya akan memberikan kita suguhan yang komprehensif tentang perkara Syahadatain, mulai dari maknanya, penjelasan maknanya, hingga tentang hal-hal yang membatalkan keislaman seseorang. Kesemuanya ini tentunya sangat penting untuk kita ketahui dan pahami sebagai seorang muslim agar aqidah kita tetap terjaga dan kita menyakini agama ini dengan sebenar-benarnya keyakinan. Kita akan menemukan, bahwa syahadat tidaklah sesederhana ucapan di bibir saja, namun mengandung makna yang sangat mendalam dan berkaitan erat dengan keyakinan kita. 

Sedangkan pada seri yang kedua dengan tajuk Sifat Shalat Nabi, kita akan disuguhkan dengan karya dari Syaikh Muhammad Nashiruddin al-Albani yang tentunya tidak kita ragukan lagi kapasitas keilmuan beliau dalam hal ini. Seri kedua ini menjadi buku yang paling tebal diantara buku yang lain sebab di dalamnya mencakup segala hal tentang perkara shalat yang dibahas secara lengkap mulai dari keutamaan dalam menegakkan shalat sesuai dengan sifat shalat Nabi, gerakan-gerakannya, hingga bacaan dan surah-surah yang dianjurkan untuk dibaca pada masing-masing waktu shalat. Risalah ini akan menjawab dengan tuntas setiap pertanyaan kita tentang rukun iman kedua ini, sekaligus akan menjadi kawan baik yang dengan santun akan memperbaiki kesalahan-kesalahn shalat yang mungkin saja tanpa sadar sering kita lakukan. Sehingga, shalat kita bisa benar-benar mencontoh kepada cara shalat Rasulullah shallallahu alaihi wasallam dengan sempurna, dan kita memiliki pengetahuan yang menyeluruh tentang dalil-dalil dari setiap komponen dalam shalat kita. Shalat bukan lagi sekadar gerakan-gerakan tanpa makna, namun telah kita ilmui dengan baik, sehingga dapat memberi dampak pada kehidupan kita secara menyeluruh. 

Sedangkan seri ketiga hingga kelima bertema Zakat, Puasa, dan Haji, ditulis dengan apik oleh Prof Dr. Abdullah Muhammad ath-Thayyar yang merupakan guru besar di Universitas Muhammad Ibnu Sa’ud dan juga merupakan Wakil Menteri Urusan Islam, Waqaf, Dakwah, dan Bimbingan Islam di Kerajaan Arab Saudi. Seri tentang Zakat dan Haji dari paket buku ini diambil dari program penerbitan Risalah Pengenalan Islam yang diterbitkan oleh Pusat Pembahasan Ilmiyah Universitas Islam Al Imam Muhammad bin Sa’ud. Sama halnya dengan kedua seri sebelumnya, tiga seri terakhir ini pun membahas secara gamblang tentang berbagai macam hal yang patut kita ketahui berkaitan dengan Rukun Islam ketiga hingga kelima. 

Bunga Rampai Rukun Islam memberikan pemahaman yang mendalam kepada pembaca, sehingga dapat memberikan pencerahan yang berkaitan dengan pemahaman, keyakinan, dan aqidah kita dalam menjalani setiap ibadah tersebut. Tidak hanya sampai di situ, selain sisi-sisi pemahaman tentang konsep ibadah, tidak ketinggalan pula diberikan penjelasan secara detil mengenai teknis-teknis dalam hal ibadah sehingga kita dapat memastikan bahwa segala hal yang terkait dengan ibadah kita telah kita laksanakan dengan benar, baik dari segi pemahaman maupun teknisnya yang sesuai dengan dalil yang shahih dan tentunya telah dicontohkan dan dijelaskan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam. Selain itu, dibahas pula tentang berbagai macam keutamaan dari ibadah-ibadah tersebut, sehingga dapat memotivasi kita untuk lebih bersemangat dalam menjalankannya. 

Menuntut ilmu syar’i melalui sepaket buku ini tentunya akan memudahkan kita dalam memahami Rukun Islam dan juga tentunya akan memperluas wawasan kita tentang hal-hal yang berkaitan di dalamnya. Misalnya, pada seri ketiga tentang Puasa, selain pembahasan tuntas tentang ibadah puasa dan Bulan Ramadhan, pengetahuan kita akan diperkaya dengan gambaran tentang puasa umat-umat terdahulu sebelum datangnya Islam. Begitu pula dalam seri terakhir tentang Haji, selain membahas tentang segala hal berkaitan dengan rukun kelima ini serta panduan manasik haji yang disusun dengan praktis dan mudah dipahami, akan ditemukan pula penjelasan tentang kekeliruan-kekeliruan yang banyak dilakukan oleh jama’ah haji, dimana mengetahui tentang hal ini akan menghindarkan kita dari kesalahan-kesalahan tersebut, sehingga kita dapat menyempurnakan ibadah haji kita. Selain itu, terdapat pula penjelasan tambahan perihal hal-hal yang berkaitan dengan ibadah Umrah yang mencakup hukum-hukum dan adab-adab dalam pelaksanaannya.  

Rangkaian seri buku ini pun menjadi semakin istimewa dengan adanya berbagai macam keunggulan-keunggulan di dalamnya. Buku ini disusun dengan mengumpulkan antara ketelitian ilmiah sehingga kita dapat memperoleh informasi-informasi yang shahih, serta dituturkan dengan bahasa yang memiliki kejelasan makna sehingga dapat dipahami oleh semua orang dan tidak membuat kening kita mengernyit saat membacanya. Misalnya saja, pada seri ketiga tentang Zakat, maka penulis tetap menggunakan istilah-istilah mengenai zakat, namun dengan memberikan penjelasan dalam analogi kontemporer saat ini, sehingga lebih mudah untuk dipahami, namun juga tidak mengurangi esensi dari sisi ilmiyahnya. 

Bahasa yang digunakan dalam buku ini relatif ringan dan dilengkapi dengan dalil-dalil yang shahih dari Al Qur’an dan As Sunnah, juga disertai dengan catatan kaki yang akan memberikan kepada kita penjelasan yang lebih mendalam mengenai suatu poin tertentu ataupun tentang derajat hadits yang digunakan dalam pembahasannya. Maka, selain memberikan kita tambahan wawasan tentang hadits itu, kita juga akan merasa tenang dalam mengamalkannya. 

Pada akhirnya, buku ini sangat layak untuk menjadi salah satu koleksi di rak buku kita. Tentu bukan sebagai pajangan, namun dapat menjadi teman setia yang akan menghamparkan lautan ilmu yang penuh dengan manfaat. Membaca buku ini akan menyadarkan kita tentang keluasan cakupan dari agama kita, sekaligus memperlihatkan kepada kita betapa sempurnanya setiap hal diatur dalam Islam. Kita akan menemukan penjelasan yang sistematis dan terstruktur sehingga lebih mudah dicerna untuk dipahami dan diamalkan. Sehingga, untaian Rukun Islam dapat kita ketahui secara sempurna dan memberikan kepada kita motivasi untuk mengamalkannya secara sempurna pula, in syaa Allah.

Jumat, 26 September 2014

[Catatan Setelah Membaca] ; Menyelami Barakah bersama Lapis-Lapis Keberkahan



Sejak Islamic Book Fair digelar, saya sudah deg-degan. Apa pasal? Salah satu rangkaian dari kegiatan tersebut adalah softlaunching buku terbaru dari penulis favorit saya; Ustadz Salim A. Fillah. Buku itu diberi judul; Lapis-Lapis Keberkahan. Selalu ada perasaan bahagia ketika mendengar penulis yang saya sukai akan menerbitkan buku terbarunya. Seperti menunggu-nunggu; waah... ia akan menuliskan apa lagi ya? Penantian yang menyenangkan.

Lalu akhirnya, setelah sempat melewatkan kesempatan pre-order edisi bertanda tangan, yang saya ketahui begitu santun mengembalikan ‘uang kembalian’ yang melebihi estimasi harga sebelumnya (pro-u memang keren!), saya akhirnya bisa mendapatkan buku ini. Dengan bantuan seorang ukhti, kami berboncengan ke Toko Buku Mutiara Ilmu di Jalan Perintis, setelah kantor Marcedes Benz, belakang salon Azka (mungkin ada yang mau berkunjung?). Menurut saya, tempat itu cukup surga J. Buku-buku yang dijualnya menarik, mulai dari buku Islam populer, buku-buku rujukan, hingga majalah Islami lama yang dijual setengah harga. Saya tidak boleh sering ke sana atau bertahan di sana dalam waktu lama jika tidak ingin dompet saya jebol. Hehehe...

Setelah berhasil memiliki buku seharga seratus ribu itu, saya pun akhirnya bisa menikmatinya. Harus saya akui, akhir-akhir ini saya jarang membaca. Beberapa buku di rak masih ada yang belum saya tamatkan. Saya tidak ingin menjadikan kesibukan domestik sebagai kambing hitamnya. Toh saat akhirnya bisa insyaf dan mulai merutinkan membaca lagi, ternyata saya bisa kok. Dan perjuangan untuk mengkhatamkan buku ini juga membuat saya sadar bahwa tempat membaca paling nyaman memang masih dimenangkan oleh; perjalanan di atas angkot. Ya, saat saya hanya bersama orang-orang asing dan tidak ada yang mengganggu. Apa yang lebih menjengkelkan dibanding diganggu saat sedang membaca?

Baiklah, mari kita mulai membahas buku ini!

Buku ini kembali memperlihatkan kualitas dari seorang Salim A. Fillah. Gaya bertuturnya yang tidak membaku dan bahkan cenderung membuat sebuah tren baru dalam berbahasa, keterampilannya mengolah sirah menjadi cerita deskriptif yang penuh rasa, serta kepiawaiannya mengikat makna dari teori-teori dalam ilmu agama, sudah tidak bisa diragukan lagi. Karakter menulisnya yang cenderung puitis dan lepas dalam bagian-bagian tulisan yang tidak begitu panjang juga masih menjadi ciri yang nampak dari karyanya yang satu ini. Hanya saja, di buku ini, terlihat beberapa kali Ust Salim memberikan poin-poin sistematis pada bagian tertentu –sesuatu yang tidak dilakukannya pada Dalam Dekapan Ukhuwah atau Jalan Cinta Para Pejuang.

Buku setebal 517 halaman ini mengingatkan saya pada pengalaman membaca serial Muhammad karya Tasaro GK. Tidak heran khan, mengapa saya harus berjuang untuk menamatkannya?

Terbagi dalam tiga bagian besar, Lapis-Lapis Keberkahan secara komprehensif membahas tentang berkah dengan segala makna dan hal-hal yang terkait di dalamnya. Salim A. Fillah lagi-lagi memberikan judul tiap bagian, tiap bab, dan tiap tulisan dengan judul-judul bernuanasa puitis yang tidak biasa. Bagian pertama; Beriris-iris Asas Makna menguraikan makna dari barakah. Bagian kedua; Bertumpuk-Tumpuk Bahan Karya membahas tentang berbagai hal yang terkait dengan berkah; mulai dari ilmu, rejeki, amalan, hingga tempat-tempat tertentu di muka bumi. Part terakhir dari bagian ini berisi catatan perjalanan beliau ke bumi Syam yang disertai dengan foto-foto dokumentasi. Ini adalah bagian favorit saya yang membuat saya setengah mati menahan air mata saat membacanya, meski akhirnya jebol juga. Bagian ketiga; Bersusun-susun Rasa Surga memaparkan perihal rasa surga yang dibawa oleh keberkahan itu. Menguraikan sosok para generasi terbaik, membahas tentang bagaimana membangun keluarga yang sakinah mawaddah warahmah, hingga tentang tata negara yang dapat mendatangkan berkah. Lengkap, ya!

Jika boleh memberikan sumbang saran pada karya-karya Salim A. Fillah berikutnya, saya hanya menginginkan satu hal; halaman indeks! Ya, untaian ilmu di dalam setiap karya beliau sungguh merupakan harta karun yang dapat dijadikan rujukan –sebab ia selalunya merujuk pada kitab-kitab para ulama besar. Namun terkadang, saya kesulitan saat harus melakukan penelusuran ulang karena pilihan judul yang begitu puitis dan menjadikannya kadang kurang representatif secara gamblang pada isi tulisan. Beberapa pembahasan juga dibuat ‘menyempil’ pada satu tulisan dan tidak dijadikan satu poin yang berdiri sendiri secara terpisah. Selama ini, saya sangat menikmati susunan karya dari Salim A. Fillah, terasa ringan dan menyenangkan untuk di lahap. Tidak kaku dan tidak terasa berat. Selalu mudah untuk mengemilnya dengan meloncat pada pembahasan-pembahasan yang diinginkan tanpa harus kebingungan, pun saat ingin melahapnya secara berurutan dari halaman mula hingga akhir.  Namun satu hal itu tadi saja yang membuat saya selalu harus menyiapkan sticky notes agar tidak perlu kesulitan saat harus melakukan penelusuran berikutnya tanpa harus membaca ulang seluruh isi buku. Maka, keberadaan indeks akan terasa sangat membantu.

Saya telah membaca semua karya Salim A. Fillah kecuali Indahnya Merayakan Cinta (uhuk!) serta beberapa kali mengikuti rekaman ceramah beliau di Majelis Jejak Nabi, kunjungan luar negeri, atau acara lainnya di laman youtube. Saat membaca buku ini, saya sadar bahwa beberapa sirah serta ide dan pembahasan, kembali di muat ulang di Lapis-Lapis Keberkahan. Buku ini menjadi semacam kumpulan lengkap dari buku-buku dan ceramah-ceramah beliau sebelumnya yang terkadang membahas tentang keberkahan di beberapa bagian.

Dan entah karena terkadang saya membaca buku ini dalam keadaan tidak full-focus, saya merasa karya teranyar beliau ini menggunakan bahasa yang lebih njlimet dibanding buku-buku sebelumnya. Saya beberapa kali harus mengecek aplikasi KBBI di ponsel untuk mengetahui makna dari kata yang baru pertama kali saya dapati dalam buku ini. Satu hal yang mungkin terasa ribet, namun di lain sisi juga menambah pengetahuan baru dan vocab baru bagi pembacanya.

Namun, saya tetap merasakan hal yang sama seperti saat membaca buku Salim A. Fillah sebelumnya; getaran. Ya, getaran di hati yang selalu sukses minimal membuat mata berkaca-kaca hingga air mata tertumpah. Terasa betul bagaimana lulusan fakultas teknik UGM ini menuliskan setiap kata-katanya dengan segenap ruhiyah, maka hasilnya pun menyasar tepat pada jiwa.

Pada akhirnya, saya akan tetap merekomendasikan buku-buku karya Salim A. Fillah kepada Anda. Dan, Lapis-Lapis Keberkahan ini pun merupakan satu karya luar biasa yang sebaiknya Anda miliki, atau setidaknya bisa Anda baca, minimal sekali seumur hidup. Dan, jangan percaya pada saya sebelum membuktikannya sendiri.

Makassar, 26 September 2014
Saya berazzam tidak akan membeli buku baru sebelum semua buku yang saya punya terbaca. Dan tidak akan membaca buku selanjutnya sebelum membuat [Catatan Setelah Membaca] untuk buku yang telah saya selesaikan. Doakan saya bisa konsisten ya! (^_^)/

Minggu, 04 Mei 2014

Perjuangan Hidup dari Negeri Beton



Judul            : Promise, Love, and Life

Penulis         : Nyi Penengah Dewanti

Penerbit        : Quanta

Terbit            : 2013

Tebal             : 176 halaman

ISBN             : 978-602-0220-35-2



Di sebuah malam Jum’at pada bulan Mei 2013, seorang gadis memulai satu fase penting dalam perjalanan hidupnya. Ia disapa Dewi. Hari itu, Dewi memutuskan untuk meninggalkan kampung halamannya dan mengejar mimpi-mimpinya. Sederhana saja, ia hanya ingin hidup layak dan memegang kendali atas dirinya sendiri, ia ingin membahagiakan ibunya –wanita yang sangat ia cintai, ia ingin membangun sebuah rumah yang dapat mereka tinggali dengan aman dan nyaman, tanpa perlu diteror oleh pembayaran sewa bulanan lagi. Demi semua itu, Dewi siap untuk menjadi seorang tenaga kerja wanita, di sebuah negeri yang belum pernah ia sambangi sebelumnya. Negeri beton; Hongkong.

Dunia TKW adalah sebuah ranah yang hingga hari ini masih memancing berbagai persepsi. Tak jarang kita mendengar berita tentang TKW yang bermasalah di luar negeri. Namun, di antara itu, ada pula cerita tentang para pahlawan devisa yang benar-benar berhasil merampungkan tugasnya dengan sangat baik. Selama ini, mungkin kita hanya mendengar kabar-kabar tersebut dari media massa yang ditulis oleh para wartawan. Nah, buku Promise, Love, and Live ini menyuguhkan pada kita suara hati yang datang langsung dari sumbernya sendiri, bukan fiksi, apalagi imajinasi. Nyi Penengah Dewanti menceritakan kisah pahit-manisnya berjuang sebagai seorang TKW; setiap perasaan, pengalaman, rasa bahagia, menegangkan, kesedihan, semuanya tumpah ruah dalam memoar yang diselingi dengan puisi-puisi yang cantik ini.

Dimulai dengan ketibaannya di Jakarta pada sebuah asrama milik agency yang akan mengurus tetek bengek persiapannya sebagai seorang TKW. Mulai dari langkah awal ini saja, kesabaran Dewi sudah harus ditempa dengan sengitnya aura persaingan antar calon TKW di asrama, belum lagi dengan kerinduannya pada ibu dan kampung halamannya. Hingga akhirnya Dewi menginjakkan kaki di Hongkong setelah penantian di tanah air, dan kembali lagi masuk asrama sebelum akhirnya ditempatkan pada majikan yang akan mempekerjakannya.

Dari satu majikan ke majikan yang lain, Dewi mengumpulkan berbagai macam pengalaman hidup. Ia harus bekerja keras, bahkan hingga seperti robot dengan jam istirahat yang begitu minim serta upaya yang ekstra bahkan hanya untuk mengerjakan kewajibannya sebagai seorang muslimah; shalat dan berpuasa.  Semua perintah majikan dilakoninya. Mulai dari menyiapkan makanan, membereskan rumah yang begitu besar, mengajak jalan-jalan bahkan hingga membersihkan kotoran anjing majikannya, sampai menunggui mobil yang sementara di parkir dalam cuaca yang tidak bersahabat. Lelahkah? Tentu saja. Namun hidup bagi Dewi adalah sebuah perjuangan panjang yang harus ia lakoni di usia yang masih sangat belia.

Aku hanya mampu menangkap, kebahagiaan ternyata harus dibarengi dengan cobaan yang menyakitkan.” (Hal.21)
Tidak cukup dengan seabrek pekerjaan yang begitu menyita tenaga itu. Kehidupan sebagai seorang buruh migran juga mengharuskannya memiliki mental baja, psikis yang tidak boleh kalah kuat dari fisiknya. Ia menghadapi berbagai macam model majikan, sebenarnya ia sempat pula menemukan majikannya yang cukup baik. Tapi, tidak jarang diantara majikannya yang begitu beringas, memotong gajinya seenaknya, dan senang mengucapkan kata-kata kasar padanya, baik tuannya, maupun sang nyonya. Belum lagi jika di rumah tempatnya bekerja ada anggota keluarga lain yang juga tidak jarang bersikap buruk padanya. Begitu pula dengan anak majikan yang sering bertingkah nakal, menjengkelkan, dan menguras tenaga lahir dan batin.

Dewi pernah nyaris pingsan karena harus bekerja tanpa makan sejak pagi. Ia diikutkan ke berbagai tempat oleh majikannya dan hanya diberi setengah potong roti yang setengah bagian lainnya diberikan kepada anjing mereka, potongan roti yang tak pernah ingin Dewi nikmati. Bahkan ia pernah nyaris ditikam dengan pisau oleh majikan kecilnya yang teramat nakal, namun belakangan menjadi begitu dekat dan bersedih ketika Dewi harus pindah ke tempat kerja yang lain.

Segala perjuangan dan kerja keras Dewi mendapatkan ‘pengakuan’ pada saat di tahun 2006 ia sempat kembali ke Indonesia dan terpilih menjadi trainer untuk TKW baru di asrama tempat para TKW dipersiapkan. Pada kesempatan itu pula, oleh Budi Hardisurjo, pemilik bisnis PJTKI tempat Dewi bernaung, ia dipertemukan dengan mantan menteri pendidikan, Wardiman Djoyodiningrat.

Memoar yang ditulis dengan gaya bertutur yang lincah ini juga terkadang akan membawa kita untuk flashback ke masa lalu Dewi. Dari sanalah kita akan menemukan sebuah kisah yang juga akan kembali mengajarkan kita arti perjuangan seorang anak dalam menghadapi kondisi keluarganya. Dewi bersama ibu dan saudara-saudaranya harus menerima saat ternyata mereka ditinggalkan oleh ayahnya. Sang ayah pergi bersama perempuan lain yang ia kenal saat ia pergi mencari nafkah. Belakangan, ia kerap kali tetap muncul dalam kehidupan Dewi. Sayangnya, lelaki itu justru datang dengan membawa masalah; hutang-hutang yang harus dilunasi, meminjam uang untuk keperluan yang entah, bahkan sejumlah jaminan untuk menghindarkannya dari bui penjara. Dan, semua beban itu harus ditanggung oleh Dewi yang menjadi tulang punggung keluarga mereka. Bayangkanlah seorang anak perempuan yang menyaksikan lelaki yang seharusnya menjadi tempatnya bersandar, justru meletakkan beban berat pada pundaknya, bersama dengan kesalahan yang begitu sulit untuk dimaafkan, serta membuatnya merasakan makna kehilangan untuk pertama kalinya.  Namun nyatanya, lagi-lagi buku ini mengajarkan kita bahwa kesalahan hadir untuk mengajarkan arti memaafkan. Seperti bagaimana Dewi akhirnya berdamai dengan takdir, dan berfokus pada ikhtiar untuk memperbaiki nasib keluarganya, meski harus dengan bekerja keras.

Tak seharusnya aku menyalahkan Bapak yang meninggalkan kami. Mungkin, Bapak belum siap menafkahi kami yang semakin besar, semakin membutuhkan biaya banyak.” (Hal. 30)

Tapi, kehidupan sebagai seorang buruh migran tidak membuatnya berhenti untuk mengembangkan dirinya. Di tengah segala kerepotannya menghadapi pekerjaan yang seolah tak ada habisnya, lewat kecanggihan teknologi, Dewi menemukan sebuah dunia lain yang begitu menarik perhatiannya; menulis. Jangan bayangkan seorang gadis yang menikmati hobi menulisnya dengan tenang dan damai serta fasilitas yang lengkap. Dewi tentu jauh dari itu. Ia bahkan harus kucing-kucingan saat terpaksa harus menggunakan komputer majikannya saat akan menyelesaikan naskah yang ingin ia ikutkan lomba atau ia kirimkan ke media. Ia rela jari-jarinya kaku saat mengetik kata-kata dengan ponselnya, atau saat ia harus meminta bantuan dari seorang kawannya yang bekerja sebagai operator warnet.  Dan, semua kerja keras Dewi berbuah; tulisannya dimuat di berbagai media massa Hongkong berbahasa Indonesia, serta memenangkan berbagai lomba, meski di awal ia harus bersabar dengan kekalahan. Bahkan, naskah memoarnya lolos pada sebuah penerbit di tanah air sejak ia masih berstatus sebagai TKW di negeri seberang.

Kisah perjalanan hidup Nyi Penengah Dewanti masih terus berlanjut. Namun, ia telah melewati satu bagian dari kehidupannya yang menyimpan begitu banyak pelajaran bagi siapapun yang ingin memaknai kerja keras, keberanian, kesabaran, kelapangan hati, dan semangat pantang menyerah. Dewi telah berhasil meraih mimpinya pada Desember 2011 saat ia menempatkan keluarganya di sebuah rumah sederhana milik mereka sendiri. Ia juga kembali ke tanah air dan menjalani hari-harinya dengan terus berkarya. Hingga kini, tidak kurang dari 100 antologi bersama telah ia hasilkan, serta tulisan-tulisan di media cetak Hongkong dan Indonesia. Ia pun menjadi editor naskah di Kinomedia Writer Academy sambil melanjutkan pendidikannya.

Aku tak sendirian/ Ada Tuhan, ada Allah pemilik semesta/ Apakah aku sendirian?/ Bukan, kau bersama doa-doa/ Doa-doamu menaungimu/ Memelukmu dari sedih yang membuatmu murung. (Hal. 161)

Buku Promise, Love, and Life adalah sebuah memoar sederhana, namun berisi nilai-nilai kehidupan yang patut untuk direnungkan oleh siapa saja. Dengan kemampuan menulis yang tidak perlu diragukan lagi, kisah kehidupan Nyi Penengah Dewanti ini sebenarnya dapat dikemas dengan lebih apik jika disajikan dalam bentuk novel based on true story dengan dialog-dialog yang hidup serta deskripsi yang lebih kuat, serta penuturan yang lebih runut dan plot yang tertata. Namun terlepas dari itu semua, buku ini sangat patut untuk kita menjadi salah satu anggota di rak buku Anda!

*Resensi ini diikutsertakan dalam lomba resensi buku BAW dan QuantaBooks

Mengendalikan Habits, Mengendalikan Hidup





Kesan pertama tentang buku ini; covernya bagus! Ya, sederhana tapi keren. Begitu membuka halamannya secara random, saya kembali merasa bahwa mata saya dimanjakan oleh buku ini. Ilustrasi selalu nampak di setiap halamannya, dengan pemilihan font dan tataletak yang nyaman dibaca juga sekaligus menarik secara visual.

Baiklah, sekarang kita akan masuk ke pembahasan isi bukunya. Buku yang ditulis oleh seorang ustadz muda fenomenal, Felix Y. Siauw ini membawa semangat fastabiqul khairat yang kental. Intinya, pemaparan dalam buku ini menggiring kita untuk memerhatikan lebih dalam perihal ‘habit’, sebuah kata yang menjadi pembahasan utama.

Habit alias kebiasaan merupakan hal yang sangat penting untuk diperhatikan. Sebab, ia bisa sangat menentukan pencapaian hidup seseorang. Habit bisa jadi dalam bentuk hal positif, bisa pula merupakan hal yang negatif. Habit bisa kita atur, namun ada kemungkinan pula ia yang akan mengatur kita.

Pada intinnya, buku ini menggiring kita untuk mengusahakan dan memiliki keinginan yang kuat untuk membentuk habit yang positif. Di back-covernya dijelaskan bahwa buku ini secara khusus diperuntukkan untuk pengemban dakwah, maka contoh-contoh konkret tentang itu memang diarahkan ke sana. Habit terlahir dari sepasang ayah dan bunda yang disebut sebagai practice dan repetition. Kedua hal inilah yang bisa menjadi sebab seseorang memiliki kebiasaan untuk melakukan sesuatu, yang kemudian menyebabkan ia mampu melakukan hal itu, untuk selanjutnya menjadi ahli di bidang tersebut. Ya, menjadi ahli bisa memungkinkan terjadi dengan adanya proses paksaan kepada diri sendiri, tanpa harus memiliki bakat, dan sangat bergantung pada keinginan yang kuat.

Buku yang pada Maret 2014 telah memasuki cetakan keenam ini mengarahkan keahlian yang terbentuk dari habit itu untuk membentuk para pendobrak yang mengenyahkan ketidakmungkinan dan akan dikenang oleh sejarah, terkhusus dalam dakwah, yang dalam buku ini disebut sebagai outliner. Selain pemaparan ‘teori habit’, buku ini juga memuat contoh-contoh kisah dari para tokoh, baik dari masa lampau maupun masa kini, serta dari dunia Islam maupun secara umum. Tak jarang pula penulis memberikan analogi-analogi sebagai teras untuk memasuki pintu-pintu penjelasannya.

Dari segi bertutur, menyeksamai tulisan Felix Y. Siauw tidak berbeda dengan mendengarkannya menyampaikan gagasan secara lisan. Jangan berharap menemukan kata-kata yang mendayu-dayu, bersayap, atau puitis. Penulis yang menyebut dirinya ‘Islamic Inspirator’ ini bertutur dengan gaya yang tegas, lugas, dan kadang jenaka –yang lebih bersifat menohok, sebenarnya. Hehehe...

Beberapa typo masih nampak dan sebaiknya lebih diperhatikan lagi pada cetakan berikutnya. Selain itu, kebiasaan saya untuk mengecek daftar isi pada saat awal memulai melahap buku, ternyata tidak bisa dipenuhi oleh buku ini.

Akhirnya, How to Master Your Habits ini adalah satu karya yang sangat patut untuk dimiliki oleh mereka yang ingin memulai belajar untuk hidup dengan positif. Terlebih untuk para pejuang dakwah Islam yang sudah seharusnya memaksimalkan dirinya dalam membagikan cahaya kebenaran.

"Anytime you see more successful than you are, they are doing something you aren't" (Malcolm X)- pg. 96

"Easy come easy go, everything that came with an instant will gone in an instant, there's no such things as ujug-ujug" -pg. 106

"impossible is a sum of possibilities, if we are willing to do the possibilities, then impossible is nothing"- pg.128

"Saya pernah menyaksikan seorang tunanetra yang berdakwah di jalan Islam, menyampaikan cahaya yang belum pernah disaksikan matanya" -pg.168